Minggu, 07 Oktober 2012

psikologi lintas budaya 1

Nama : Sella Mariana Kelas : 2pa09 Npm : 16510433 Tugas psikologi Lintas Budaya (softskill) 1. Jelaskan pengertian psikologi lintas budaya ? Jawab : Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut. 2. Tujuan mempelajari psikologi lintas budaya ? Jawab : Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam berbagai budaya dan kelompok etnik. 3. Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lainnya ? Jawab : Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling membantu, saling mengisi satu sama lain. • Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hubungan antar individu, dan antar individu dan kelompok dalam perilaku social. Melihat pengertian sosiologi jelas hubungan psikologi lintas budaya dan sosiologi amat erat. Lalu seiring berjalannya waktu kita lebih mudah mengatakan psikologi lintas budaya karena kita melihat hubungan yang erat antar kedua ilmu tsb. Psikologi lintas budaya mempelajari mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut. objeknya pada individu tersebut. Psikologi lintas budaya dan Sosiologi sama- sama mempelajari perilaku hubungan antar individu. • Menurut kamus Bahasa Indonesia, antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang asal- usul manusia, kepercayaannya, bentuk fisik, warna kulit, dan budayanya di masa silam. Karena eratnya hubungan psikologi dan antropologi sehingga muncullah sub ilmu yang salah satunya bernama anthropology in mental health, pada sub ilmu ini sangat terlihat bahwa psikologi dan antropologi saling terkait, seperti contoh bahwa penyakit jiwa tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh kelainan biologis namun juga oleh emosi atau mental yang tertekan sehingga membuat orang tersebut mengalami penyakit jiwa, keadaan jiwa manusia itu tergantung pada aspek- aspek social budaya. • Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran yang sedalam- dalamnya. Sebenarnya psikologi adalah salah satu bagian dari filsafat. Jadi psikologi dengan filsafat hubungannya sangat erat karena psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat. 4. Etnosentrisme dalam psikologi lintas budaya ? Jawab: Etnosentrime merupakan suatu sumber utama perbedaan budaya dalam bentuk sikap. Setiap individu atau kelompok individu cenderung memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan criteria kelompok sendiri, memandang kelompok sendiri sebagai pusat alam semesta yang mempengaruhi interaksi interkultural. Etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya. kesetiakawanan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai dengan prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa yang lain. Orang-orang yang berkepribadian etnosentris cenderung berasal dari kelompok masyarakat yang mempunyai banyak keterbatasan baik dalam pengetahuan, pengalaman, maupun komunikasi. 5. Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya melalui enkulturasi dan sosiologi ? Jawab : Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menysuaikan alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan yang lebih besar (masyarakat). Di samping enkulturasi, terdapat sosialisasi. Sosisalisasi adalah proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota. Di mana-mana, di berbagai kebudayaan, sosialisasi tampak berbeda-beda tetapi juga sama. Meskipun caranya berbeda, tujuannya sama, yaitu membentuk seorang manusia menjadi dewasa. Proses sosialisasi seorang inndividu berlangsung sejak kecil. Mula-mula mengenal dan menyesuaikan diri dengan individu-individulain dalam lingkungan terkecil (keluarga), kemudian dengan teman-teman sebaya atau sepermainan yang bertetangga dekat, dengan saudara sepupu, sekerabat, dan akhirnya dengan masyarakat luas. 6. Persamaan dan perbedaan antar budaya melalui perbedaan moral ? Jawab : Moral Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin yaitu mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangai yang dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai: 1. prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. 2. kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. 3. ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik. Moral ialah tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika. Moral terbagi menjadi dua yaitu: 1. Baik; segala tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai baik. 2. Buruk; tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai buruk. Perkembangan moral adalah perubahan penalaran, perasaan, dan perilaku tentang standar mengenai benar dan salah. Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal, yang mengatur aktifitas seseorang ketika dia terlibat dalam interaksi sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dan penyelesaian konflik. Pada usia Taman Kanak-kanak, anak telah memiliki pola moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan dengan moral position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang terhadap suatu nilai moral yang didasari oleh aspek motivasi kognitif dan aspek motivasi afektif. Menurut John Dewey tahapan perkembangan moral seseorang akan melewati 3 fase, yaitu premoral, conventional dan autonomous. Anak Taman Kanak-kanak secara teori berada pada fase pertama dan kedua. Oleh sebab itu, guru diharapkan memperhatikan kedua karakteristik tahapan perkembangan moral tersebut. Sedangkan menurut Piaget, seorang manusia dalam perkembangan moralnya melalui tahapan heteronomous dan autonomous. Seorang guru Taman Kanak-kanak harus memperhatikan tahapan hetero-nomous karena pada tahapan ini anak masih sangat labil, mudah terbawa arus, dan mudah terpengaruh. Mereka sangat membutuhkan bimbingan, proses latihan, serta pembiasaan yang terus-menerus. Moralitas anak Taman Kanak-kanak dan perkembangannya dalam tatanan kehidupan dunia mereka dapat dilihat dari sikap dan cara berhubungan dengan orang lain (sosialisasi), cara berpakaian dan berpenampilan, serta sikap dan kebiasaan makan. Demikian pula, sikap dan perilaku anak dapat memperlancar hubungannya dengan orang lain. Perkembangan moral dan etika pada diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkan dan menghargai perbedaan di lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya, serta mengembangkan keterampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk merespon orang lain dan pengalaman-pengalaman barunya, serta memunculkan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan teman disekitarnya. Ruang lingkup tahapan/pola perkembangan moral anak di antaranya adalah tahapan kejiwaan manusia dalam menginternalisasikan nilai moral kepada dirinya sendiri, mempersonalisasikan dan mengembangkannya dalam pembentukan pribadi yang mempunyai prinsip, serta dalam mematuhi, melaksanakan/menentukan pilihan, menyikapi/menilai, atau melakukan tindakan nilai moral. 7. Persamaan dan perbedaan antar budaya melalui perkembangan budaya ? Jawab : Di negara kita terlihat banyak sekali budaya luar yang masuk ke Negara kita,dan kebudayaan di Negara kita pun semakin berkembang dan banyak budaya baru di Negara kita sebagai percampuran dari budaya asli kita sendiri dengan budaya yang ada di luar Negara kita yang masuk dengan pesat lewat kemajuan teknologi,lewat pertukaran mahasiswa,dan banyaknya orang luar yang tinggal di Negara kita ataupun sebaliknya. 8. Persamaan dan perbedaan dalam hal konformitan,compliance,dan obedience ? Jawab : Conformity adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju. Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas. Untuk membandingkan bagaimana conformity, compliance, dan obedience secara lintas budaya, maka telaah itu harus memusatkan perhatian pada nilai konformitas dan kepatuhan itu sebagai konstruk sosial yang berakar pada budaya. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang “baik” tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif. 9. Persamaan dan perbedaan dalam hal nilai-nilai ? Jawab : telaah lintas budaya mengenai nilai-nilai baik kemasyarakatan maupun perseorangan tergolong baru nilai merupakan gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok, yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan-pilihan yang ada. Dalam Psikologi Lintas Budaya nilai dimasukkan sebagai salah satu aspek dari budaya atau masyarakat. Nilai muncul menjadi ciri khas yang cenderung menetap pada seseorang dan masyarakat dan karenanya penerimaan nilai berpengaruh pada sifat kerpibadian dan karakter budaya. 10. Persamaan dan perbedaan dalam hal perilaku gender ? Jawab : Gender merupakan kajian tentang tingkah laku dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Perbedaan pola sosialisasi ini juga berkaitan dengan beberapa faktor budaya dan faktor ekologi. Gender merupakan hasil konstruksi yang berkembang selama masa anak-anak sebagaimana mereka disosialisasikan dalam lingkungan mereka. Adanya perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan karakteristik psikologis yang berbeda antara pria dan wanita. Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami budaya dan gender tidak statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu dinamis dan saling berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem itu sendiri. Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam kehidupan kita sendiri.Sebagai konsekuensinya, budaya yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu budaya mungkin mendukung kesamaan antara pria dan wanita, namun budaya lainnya tidak mendukung kesamaan tersebut. Dengan demikian budaya mendefinisikan atau memberikan batasan mengenai peran, kewajiban, dan tanggung jawab yang cocok bagi pria dan wanita. 11. Persamaan dan perbedaan dalam hal social bermasyarakat ? Jawab : Terdapat hubungan dan saling mempengaruhi antara individu, masyarakat dan kebudayaannya. Individu, masayarakat dan kebudayaannya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana Anda maklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat itu sendiri terbentuk dari individu-individu. Masyarakat dan kebudayaan mempengaruhi individu, sebaliknya masyarakat dan kebudayaan dipengaruhi pula oleh individu-individu yang membangunnya. 12. Persamaan dan perbedaan social kognitif ? Jawab : Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Dalam psikologi, kognitif adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari sebuah prilaku. Kognitif juga merupakan salah satu hal yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, rasa dan karsa) dalam rangka mempertahankan kelangsunganhidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitas (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya (biologis, sosiolois, psikologis) yang diseimbangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, hambatan (AGHT) dari lingkungan alam dan sosialnya. 13. Persamaan dan perbedan dalam hal individual dan klolektifitas ? Jawab : Individual adalah pola sosial yang berfokus pada nilai tertinggi pada kepentingan individu yang bersifat personal. Dan mereka didorong untuk membangun suatu konsep akan diri yang terpisah dari orang lain yang termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung mengarah pada tujuan diri individu. Kolektivitas adalah suatu pola sosial yang berfokus pada kepentingan kelompok yang menjadi suatu nilai tertinggi. Jadi individual dan kolektivitas memiliki tempat tertinggi dalam suatu budaya. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang bertentangan dengan masing-masing norma, individualis lebih bertentangan dengan norma kelompok sedangkan kolektivitas lebih cenderung sesuai dengan norma kelompok. http://psikologi-online.com/etnosentrisme http://id.wikipedia.org/wiki/psikologi_lintas_budaya

Kamis, 14 Juni 2012

Kesan saya melihat vidio vidio yang tadi ditampilkan saya merasa sangat tersentuh sekali,ternyata banyak sekali orang-orang diluar sana yang tidak seberuntung kita. Disini saya juga merasa sedikit malu karena dengan kehidupan saya yang seperti ini seharusnya saya selalu bersyukur.dengan melihat vidio vidio tadi saya jadi merasa termotivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan selalu menghargai setiap apa yang kita punya. Vidio yang menceritakan tentang seorang “ayah”yang tidak bisa berbicara karena memiliki cacat dari kecil tapi sang ayah selalu ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya,disitu saya merasa sangat tersentuh. Sang ayah bekerja keras untuk anaknya,tetapi anaknya merasa malu karena ayahnya yang cacat seperti itu,saya benar benar besyukur karena saya memiliki keluarga yang lengkap dan tidak kekurangan apapun. Dan saya merasa sangat termotivasi untuk menjadi manusia yang sukses yang tidak boleh mengeluh walaupun kegagalan menghampiri saya karena saya yakin kemampuan dan kesungguhan yang saya miliki akan mengantarkan saya kegerbang kesuksesan..amin

Kamis, 26 April 2012

Behaviourisme Aliran ini khususnya terdapat di Amerika Serikat. Aliran ini ditemukan oleh John B.Watson (1878-1958). Ia menentang pendapat yang umum berlaku di saat itu bahwa dalam eksperimen-eksperimen psikologi diperlukan intropeksi. Intropeksi yang mengamati perasaan sendiri digunakan dalam eksperimen – eksperimen di labolatarium wundt untuk mengetahui ada atau tidak adanya perasaan-perasaan apa yang dapat ditimnbulkannya dalam eksperimen-eksperimennya. Oleh karena itu psikologi Wundt dikenal juga dengan nama psikologi introspeksi. Pandangan ini dibawa dan dipopulerkan dari jerman ke Amerika oleh salah seorang murid Wundt yang bernama Edward B. Titchener (1867-1927). Watson dilain pihak memperknalkan psikologi yang sama tidak mempergunakan introspeksi. Menurut dia psroses proses kesadaran tidak perlu diselidiki,karena yang lebih penting adalah proses adaptasi, gerakan otot-otot, dan aktivitas kelenjar kelenjar. Ia berharap dengan teorinya ini dapat dicapai objektivitas ilmiah yang lebih sempurna, karena dalam introspeksi pengaruh faktor-faktor subjektif dari orang yang diperiksa besar sekali.oleh karena itu,ia lebih mementingkan perilaku terbuka yang langsung dapat diamati dan diukur daripada laku tertutup yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung. Emosi gembira atau emosi sedih menurut kaum “behaviourist”adalah manifestasi dari adanya ketegangan (tarikan) otot-otot dan syaraf syaraf tertentu. Aliran ini disebut pula sebagai “S-R” (stimulus respons) karena menurut penganut-penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan (stimulus)dan diikut oleh reaksi (response) terhadap rangsangan itu. Sebagaimana pavlov yang percaya bahwa perilaku,bahkan kebudayaan,hanyalah rangkaian refleks terkondisi saja,Watson pun yakin bahwa ia dapat melatih 10 anak untuk memiliki sifat yang berbeda-beda (penakut,pemberani,pemalu dsb) hanya dengan melatihnya melalui proses kondisioning. Salah satu penganut watson yang sangat besar masukannya untuk perkembangan Behaviorisme adalah B.F.Skinner. sebagian terbesar teori skiner adalah tingkah laku, belajar dan modifikasi tingkah laku. Psikoanalisis Psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund freud (1856-1939) pada 1909. Ia dikenal dengan teorinya mengenai alam ketidaksadaran. Teori ini merupakan penemuan baru saat itu karena selama itu para ahli hanya menyibukan diri dengan alam kesadaran sebagaimana yang nyata dalam teori-teori lain yang berlaku disaat itu sperti teori Asosiasi,teori intropeksi,behaviourisme,dan sebagainya. Ketidaksadaran menurut freud berisi dorongan-dorongan yang timbul pada masa kanak-kanak yang oleh satu dan lain hal (misalnya karena dilarang oleh norma masyarakat ) terpaksa ditekan sehingga tidak muncul dalam kesadaran. Dorongan-dorongan terlarang ini, menurut teori Freud yang klasik adalah naluri seksual atau disebut jug libido sexualis dan naluri agresif atau tanatos. Dorongan-dorongan terlarang ini,meskipun ditekan tetap berpengaruh dan sering timbul dalam mimpi-mimpi,kesalahn bicara (slip of the tongue) atau bahkan dalam perbuatan-perbuatan biasa yang dapat diterima masyarakat seperti karya seni,karya sastra,ilmu pengetahuan dan sebagainya. Sebaliknya,kalau dorongan-dorongan ini sama sekali tidak dapat disalurkan,mka ia akan mengganggu kepribadian orang yang bersangkutan yang antara lain dapat berbentuk gangguan-gangguan kejiwaan yang disebut psikoneurosis.psikoanalisis sebagai tehnik penyembuhan penyakit-penyakit kejiwaan (psikoterapi) mempunyai metode untuk membokar gangguan –gangguan yang terdapat dalam ketidaksadaran ini, antara lain dengan metode analisis mimpi dan metode asosiasi bebas. Dalam perkembangan teori selanjutnya, Freud mengemukakan pula teori tentang id,ego,superego yang masing-masing berarti dorongan-dorongan naluri (id), aku (ego), dan hati nurani (suprego). Id Id merupakan sistem kepribadian yang asli,id merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Freud juga menyebut id “kenyataan psikis yang sebenarnya”karena id merepresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Prinsip reduksi tegangan yang merupakan ciri kerja id disebut prinsip kenikmatan (pleasure psrinciple). Ego Ego timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Orang yang lapar harus mencari,menemukan dan memakan makanan sampai tegangan karena rasa lapar dapat dihilangkan. Perbedaan pokok antara id dan ego adalah bahwa id hanya mengenal kenyataaan subjektif-jiwa,sedangkan ego membedakan antara hal-hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.ego dikatakan mengikuti prinsip kenyataan dan beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan prinsip kenyataan adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Proses sekunder adalah berpikir realisti. Dengan proses sekunder,ego menyusun rencana untuk memuaskan kebutuhan dan kemudian menguji rencana ini, biasanya melalui suatu tindakan untuk melihat apakah rencana itu berhasil atau tidak. Superego Superego adalah perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisioanal masyarakat sebagaimana diterangkan orangtua kepada anak dan dilaksanakan dengan cara memberinya hadiah atau hukuman. Superego adalah wewenang moral dari kepribadian ia mencerminkan yang ideal bukan real dan memperjuangkan kesempurnaan dan bukan kenikmatan. Fungsi-fungsi pokok superego adalah : 1. Merintangi impuls impuls id,terutama impuls impuls seksual dan agresif, 2. Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistis dengan tujuan-tujuan moralistis, 3. Mengajar kesempurnaan.