teori psikoanalisis dan behaviourisme
Kamis, 14 Maret 2013
psikoterapi
1. Pengertian psikoterapi :
Menurut Watson (1977) psikoterapi dirumuskan sebagai bentuk khusus dari interaksi antara dua orang,pasien dan terapis,pada mana pasien memulai interaksi karena karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran ,perasaan dan tindakannya.
Menurut Corsini (1989) mengatakan bahwa psikoterapi proses formal dari interaksi antara dua pihak,setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang,tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak,dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut : fungsi kognitif (kelainan pada fungsi befikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidak tepatan perilaku) dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian,perkembangan,mempertahankan dan mengubah bersama sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagao terapis.
2. Tujuan psikoterapi :
1. Menurut Corey (1991)
a) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis adalah Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
b) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan tingkah laku adalah secara umum untuk menghilangkan perilaku dan mencari apa yang dapat dilakuakan dan mencari apa yang dapat dilakuakn terhadap perilaku yang menjadi masalah. Klien berperan aktif dalam menyusun terapi dan menilai bagaimana tujuan-tujuan ini bias tercapai.
c) Tujuan psikoterapi denagn pendekatan Kognitif-Behavioristik dan Rasional-Emotif adalah menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara lebih rasional dab toleran. Untuk membantu pasien mempergunakan metode yang lebih ilmiah atau objektif untuk memecahkan masalah emosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.
d) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Gestalt adalah membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamnnya. Untuk merangsangnya menerima tanggung jawab daridorongan yang ad di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
e) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Realitas adalah untuk membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa sebarapa jauh tindakannya berhasil.
2. Menurut Ivey, et al (1987)
a) Tujuan Psikoterapi dengan pendekatan Behavioristik adalah untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bias menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus ditentukan oleh klien.
b) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Gestalt, adalah agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
c) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Realitas adalah untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain. Untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya. Psikoterapi merupakan alat yang dapat membantu dan penting dipelajari khususnya oleh dokter dan para profesional lain yang berperan dalam kesehatan dan kesehatan jiwa, namun perlu pula diingat bahwa teknik dan metodenya yang tertentu dan bermacam-macam tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat dipelajari dan dipraktekkan dengan baik. Tentunya, dengan hanya membaca buku ajar yang singkat ini tidaklah mungkin mencakup keseluruhan hal mengenai psikoterapi, namun setidaknya prinsip-prinsip dasar psikoterapi dapat dipahami, untuk dapat diaplikasikan dalam praktek sehari-hari, sehingga dapat turut menunjang upaya peningkatan mutu pelayanan kepada pasien. Secara non spesifik, psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain; sebagai suatu yang spesifik atau khusus, sebagaimana telah disebutkan di atas, psikoterapi merupakan rangkaian teknik yang digunakan untuk mengubah perilaku (catatan: teknik merupakan rangkaian tindakan yang dibakukan untuk mendapatkan perubahan tertentu, bukan urutan perubahan alamiah, sehingga harus dilatih untuk mencapai ketrampilan optimal). Dengan psikoterapi, seorang dokter akan dapat memanfaatkan teknik-teknik untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapainya. Bila seorang dokter tidak mengerti atau memahaminya, sebetulnya bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya.
3. Unsur-unsur psikoterapi :
Masserman (1984) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi.
1. Peran social (martabat)
2. Hubungan (persekutuan tarapeutik)
3. Hak
4. Retrospeksi
5. Re-duksi
6. Rehabilitasi, memperbaiki gangguan perilaku berat
7. Resosialisasi,
8. Rekapitulasi
4. Perbedaan antara psikoterapi dan konseling :
Konseling: Merupakan proses membantu seseorang untuk belajar menyelesaikan masalah interpersonal, emosional dan memutuskan hal tertentu. Fokus pada masalah klien atau pasien. Percakapannya merupakan percakapan dua arah. Bentuknya terstruktur, yaitu terdiri atas: menyambut, membahas, membantu menetapkan pilihan, mengingatkan. Bertujuan membantu klien untuk mengenal dirinya, memahami permasalahannya, melihat peluang dan mencari alternatif penyelesaiannya. Memerlukan kemampuan melakukan komunikasi interpersonal. Konseling dilakukan dalam suasana yang menjamin rasa aman dan nyaman.
perbedaan dalam perkembangan mutakhir semakin sulit di temukan pokok-pokok perbedaan antara konseling dengan psikoterapi. Cara yang paling aman melacak perbedaan antara keduanya adalah dengan menyorotinya dari beberapa segi relevan. Konseling dan psikoterapi dapat dipandang berbeda lingkup pengertian antara keduanya. Istilah “psikoterapi” mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada suatu yang jelas, yaitu satu bentuk terapi psikologis. Tetapi pada lain segi, ia menunjuk pada sekelompok terapi psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah satu bentuk psikoterapi. Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan. Konseling dijalankan atas dasar (atau dijiwai oleh) falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi.
5. Pendekatan psikoterapi terhadap mental illness :
1.Terapi Psikoanalitik
Figur utama: Sigmund Freud, Figur-figur lain: Jung, Adler, Sullivan, Rank, Fromm, Horney, Erikson. Secara historis merupakan system psikoterapi pertama. Psikoterapi adalah suatu teori kepribadian, system filsafat, dan metode psikoterapi.
Pendekatan Freud psikoterapi harus dibicarakan ketika datang untuk mengobati kesehatan mental. Dia adalah orang pertama yang menemukan bahwa pasien membaik jika mereka berbicara dengan seorang terapis. Freud juga yang pertama kali mengembangkan teknik yang unik berbicara dalam psikoterapi dan teknik ini dikenal sebagai asosiasi bebas.
Dengan menggunakan teknik asosiasi bebas selama sesi psikoterapi, Freud dapat memulihkan kenangan lama terlupakan ditawan dalam pasien dan Freud percaya bahwa banyak dari kenangan ini adalah akibat dari gejala psikiatri yang dialami oleh pasien.
Pendekatan Freud psikoterapi menunjukkan bahwa seorang pasien dapat ditolong jika terapis mendengarkan dan ikut terlibat dalam apa yang dikatakan pasien. Ini benar-benar berlawanan dengan seorang terapis yang mendengarkan pasien dan menghabiskan sesi mencatat. Bahkan, Freud aktif dalam semua sesi yang ia telah dengan pasien dan percaya pada yang terlibat.
Saat ini banyak penelitian telah menunjukkan bahwa jika terapis yang aktif, empatik dan melibatkan diri selama sesi psikoterapi, hal ini sangat bermanfaat bagi pasien kesehatan mental dan pemulihan kemungkinan lebih tinggi.
Pendekatan Freud psikoterapi membuka pintu dan banyak terapis percaya dalam cara merawat pasien. Meskipun psikoterapi telah berevolusi dan berubah sejak Freud waktu, ada beberapa dasar terapis yang masih percaya dalam menggunakan pendekatan Freud karena membantu pasien mereka memenuhi tujuan mereka.
2. Terapi Eksistensial Huamnistik
Figur-figur utama: May, Maslow, Frankl, Jourard. ‘Kekuatan ketiga ‘ dalam psikologi ini dikembangkan sebagai reaksi melawan psikoanalisis dan behaviorisme yang dianggap tidak berlaku adil dalam mempelajari manusia.
3. Terapi Client-Centered
Pendiri: Carl Rogers. Semula adalah pendekatan nondirektif yang dikembangkan pada tahun 1940-an sebagai reaksi melawan pendekatan psikoanalitik. Berlandaskan pada pandangan subjektif atas pengalaman manusia, terapi clien-entered menaruh kepercayaan dan meminta tanggung jawab yang lain besar kepada klien dalam menangani berbagai permasalahan.
4. Terapi Gestalt
Pendiri: Fritz Perls. Sebagian besar merupakan terapi eksperimental yang menekankan kesadaran dan intergarsi, yang muncul sebagai reaksi melawan terapi analitik, serta mengintegarsikan fungsi jiwa dan badan.
5. Terapi Tarnsaksional
Pendiri: Eric Berne. Suatu model terapi kontemporer yang cndrung kea rah aspek-aspek kognitif dan behavioral, dan dirancang untuk membantu orang-orang dalam mengevaluasi putusan-putusan yang telah dibuatnya menurut kelayakan sekarang.
6. Terapi Tingkah Laku
Tokoh-tokoh utama: Wolpe, Eysenck, Lazarus, Salter. Suatu model terapi yang merupakan penerapan prinsip-prinsip belajar pada penyelesaian gangguan-gangguan tingkah laku yang spesifik. Hasil-hasilnya merupakan bahan bagi eksperimentasi lebih lanjut. Terapi tingkah laku secara sinambung berada dalam proses penyempurnaan.
7. Terapi Rasional-Emotif
Pendiri: Albert Ellis. Suatu model terapi yang sangat menekankn peranan pemikiran dan sistem –sistem kepercayaan sebagai akar masalah-masalah pribadi.
8. Terapi Realitas
Pendiri: William Glasser. Suatu model terapi yang dikembangkan sebagai reaksi melawan terapi konvensional. Terapi realitas adalah terapi jangka pendek yang focus pada saat sekarang, menekankan kekuatan pribadi, dan pada dasarnya merupakan jalan di mana para klien bias belajar mencapai keberhasilan.
6. Bentuk utama terapi :
Psikoterapi Humanistik
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan.
Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
Eksistensial Psychotherapies
Eksistensialis mencari makna eksistensi manusia, dan menekankan pilihan dan individualitas (sebagai lawan dari gagasan bahwa perilaku kita ditentukan dalam beberapa cara mekanistik). Martin Heidegger (1889-1976) biasanya disebut sebagai tokoh filsafat eksistensial modern. Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia adalah proses, terus berkembang untuk setiap individu. Tidak statis, tapi selalu menjadi sesuatu yang berbeda (Hergenhahn, 1992). Unsur-unsur filsafat eksistensial terlihat dalam bentuk psikoterapi yang dikembangkan oleh Ludrvig Binswanger dan lain-lain
Psikoterapis eksistensial fokus pada tema penting dari kehidupan dan masalah klien, tetapi penekanannya adalah pada kualitas hubungan terapeutik itu sendiri sebagai agen penting dari perubahan. Tugas psikoterapi eksistensial adalah menantang klien untuk memeriksa kehidupan mereka dan mempertimbangkan bagaimana kebebasan mereka terganggu. Yang membantu mereka untuk menghilangkan hambatan, meningkatkan rasa pilihan mereka, dan mengerahkan keinginan mereka.
Psikoterapi eksistensial berusaha untuk memahami makna yang unik dari sudut pandang pengalaman klien yang subjektif dari dalam diri individu atau dunia saat fenomenologisnya. Hubungan kolaboratif antara klien dan terapis adalah penyembuhan dalam dirinya sendiri, dan tidak bergantung konseptual pada "repair model" (Walsh & McElwain.2002, p.272).
Pendekatan eksistensial bukanlah bentuk yang paling banyak dipraktekkan psikoterapi, namun para praktisi melihatnya sebagai kontras yang menyegarkan untuk terapi mekanistik lebih bekerja keras dalam mempromosikannya, mengutip dukungan eksperimental berkembang di beberapa daerah (Cain & Seeman, 2002). Hal ini juga penting dalam mengatur adegan untuk terapi humanistik yang lebih populer, terutama Carl Rogers berpusat pada terapi klien.
Gestalt Therapy
Nama yang paling kuat terkait dengan terapi Gestalt adalah Frederick ("Fritz") Perls (1893-1970). Perls adalah seorang dokter Jerman yang awalnya dilatih dalam psikoanalisis, tetapi ia menjadi semakin tertarik pada ide-ide fenomenologis dan eksistensial dan akhirnya mengembangkan terapi Gestalt sebagai campuran psikoanalisis, eksistensial, dan pengaruh lainnya (Greenberg & Rice, 1997).
Psikolog Gestalt keberatan untuk mempelajari unsur-unsur tertentu dalam persepsi dan pembelajaran, dengan alasan bahwa kita tidak mengalami dunia dalam fragmen yang terisolasi tetapi dalam konfigurasi bermakna (Hergenhahn, 1992). Studi psikolog Gestalt 'persepsi dan pemecahan masalah menunjukkan bahwa kita cenderung untuk melihat pola, bukan rangsangan terisolasi, dan bahwa orang-orang dan hewan dapat memecahkan masalah dalam kilatan wawasan di mana kita tiba-tiba "melihat" solusi bukan oleh Leaming esensial-and-error yang membosankan.
Para psikolog Gestalt Kurt Koffka, Wolfgang Kohler, dan Max Wertheimer mengembangkan sistem mereka sebagai teori medan di mana struktur yang diciptakan oleh kimia otak memaksakan agar pada apa yang kita rasakan, sementara pada saat yang sama pola apa yang dirasakan secara bertahap dapat membentuk tata letak otak manusia (Hergenhahn, 1992).
Gestalt Therapy Konsep.
Studi Perls tentang psikologi Gestalt memberinya pandangan holistik fungsi fisik dan psikologis manusia, dan menuntunnya untuk melihat orang tersebut sebagai bagian dari suatu organisme / lingkungan lapangan (Greenberg & Beras 1997,. p. 102). Istri Perls dan kolega, Laura Posner Perls, melakukan pendekatan terapi Gestalt dengan dia. Mereka mengembangkan terapi Gestalt afier meninggalkan Jerman pada tahun 1930-an untuk Belanda, maka Afrika Selatan, dan kemudian Amerika Serikat dan Kanada (Yontef, 1995). Konsisten dengan teori medan, dalam pendekatan mereka terhadap psikopatologi dan psikoterapi Fritz Perls dan Laura dan rekan mereka terfokus pada proses, atau pengembangan masyarakat dari waktu ke waktu, bukan struktur kepribadian statis, seperti yang tersirat oleh model psikoanalitik tradisional. Perls fritz dilihat seseorang sebagai sangat banyak sedang berlangsung acara-fisik, proses yang kompleks dan terus mencerna makanan, membangun dan mogok kimia dalam saraf dan otot, dan sebagainya, dan psikologis, interaksi terus menerus dari orang dengan fluks yang selalu berubah rangsangan internal dan eksternal. Terapis Gestalt menggunakan metabolisme mental yang panjang sebagai metafora untuk proses melalui mana orang tumbuh secara emosional (Yontet 1995).
Dalam Perls klinis mereka bekerja Fritz dan Laura menekankan kesadaran sensasi tubuh saat ini, percobaan aktif dalam bentuk latihan ini yang dirancang untuk membantu klien mendapatkan berhubungan dengan pengalaman langsung mereka, dan pertemuan yang tulus dengan orang lain. Unsur-unsur ini semuanya telah dimasukkan ke dalam humanistik kontemporer dan terapi pengalaman (Greenberg & Rice, 1997; Yontef 1995).
Insight adalah konsep penting dalam terapi Gestalt. Insight adalah bentuk kesadaran di mana segala sesuatu jatuh ke tempatnya dalam pola meaningfur. Psikoterapi dapat membantu orang mengembangkan wawasan kesadaran diri ketika hal ini tidak terjadi secara alami. Sebagai terapi intervention Gestalt berfokus pada proses pengalaman daripada konten dan didasarkan pada interaksi di sini dan sekarang antara terapis dan klien. Lagu-lagu terapis ke dalam angka-angka yang muncul dari latar belakang selama interaksi terapeutik dan mencoba untuk mendapatkan wawasan mereka (Yontef, 1995).
Gestalt Terapi sering dikaitkan dengan beberapa teknik dramatis yang baik dipublikasikan pada tahun 1960 dan 1970-an. Ini termasuk teknik “empty chair” untuk berurusan dengan "belum selesai" dengan orang lain, dan penutupan sehingga mendapatkan. Dalam teknik menghadapi kursi kosong ini, kontak orang yang imajiner lainnya untuk mengekspresikan emosi yang menyakitkan yang sebelumnya menghambat (Strumpfel & Goldman, 2002, p.197). Terapis Gestalt menentang gagasan bahwa ada set teknik mapan yang mendefinisikan pendekatan. Seperti dalam kasus pendekatan terapi lainnya, prinsip-prinsip terapi jauh lebih penting daripada teknik tertentu yang dapat digunakan (yontef, 1955).
Seperti psikoterapi eksistensial, Gestalt terapi tidak umum dilakukan sebagai pendekatan “free standing”. Namun, itu telah memiliki pengaruh yang kuat pada sekolah humanistik lainnya, dan beberapa strategi dan prinsip telah populer di kalangan terapis eklektik.
Client-Centered Therapy
Pengenalan Carl Rogers “Clien-Centered Therapy” pada tahun 1940 adalah peristiwa penting dalam meluncurkan terapi humanistik sebagai kekuatan yang signifikan dalam psikoterapi Amerika. Asumsi utama Rogers adalah bahwa klien mengarahkan pertumbuhan pribadi mereka sendiri, dibantu oleh sumber daya batin mereka sendiri. Proses terapis ini membantu bersama dengan menyiapkan iklim yang paling fasilitatif, hubungan interpersonal yang hangat yang ditandai dengan keaslian terapis, hal positif tanpa syarat, dan empati (Raskin & Rogers).
Dipengaruhi oleh Maslow, Rogers percaya bahwa drive bawaan individu untuk aktualisasi diri semua bahwa salah satu kebutuhan untuk memecahkan masalah pribadi dan emosional dan menjalani kehidupan yang memuaskan. Tugas terapis adalah untuk membebaskan proses ini ketika telah menjadi diblokir, biasanya ketika individu telah kehilangan kontak dengan nya atau rasa sendiri tentang apa yang terasa benar dan bergantian, sebagai gantinya, untuk menerima penghakiman dan mencari persetujuan dari orang lain.
Konsisten dengan teori ini, Rogers memberikan konselor dan psikoterapis rekomendasi: Jangan memecahkan masalah, tapi membantu klien tumbuh. Mengandalkan pada drive individu terhadap penyesuaian dan perkembangan yang sehat. Tekankan emosional, bukan intelektual, unsur-unsur dalam proses konseling. Fokus pada situasi mendesak, bukan masa lalu. Tekankan hubungan terapeutik itu sendiri sebagai pengalaman pertumbuhan (Kain, 2002; Rogers, 1940, 1942).
Memperkuat asumsi teoritis dalam artikel selanjutnya, "The Necessary and Sufficient Conditions of Theurapeutic Personality Change" (Rogers, 1957), ia membuat poin-poin berikut. Dua orang, klien dan terapis, berada dalam kontak psikologis. Klien adalah keadaan ketidaksesuaian (rentan atau cemas). Terapis adalah sama dan sebangun atau terintegrasi-otentik, konsisten-dalam hubungan. Terapis mengalami hal positif tanpa syarat untuk klien, dan pengalaman pemahaman empatik dari frame internal klien acuan. Terapis menyampaikan pemahaman empatik nya dan hal positif tanpa syarat kepada klien, dan komunikasi dari pengalaman ini efektif (Cain, 2002).
Genuineness. Ketika terapis yang asli (atau kongruen) dalam hubungan terapeutik, mereka alami dan polos, hanya menjadi diri sendiri, daripada menempatkan pada gambar palsu atau bahkan gambar seorang terapis profesional. Kebalikan dari keaslian dalam arti Rogerian akan menjadi “game face” yang dapat ditampilkan sebagai langkah pertama menghitung dirancang untuk mendapatkan beberapa keuntungan.
Unconditional positive regard. Menerima klien tanpa syarat berarti tidak berkewajiban memperoleh nilai hakikat manusia, secara otomatis terapis akan menerima klien dengan masalah apapun. Namun banyak keraguan dari teknik client center therapy jika menghadapi anak yang mengganggu dan pembunuh, namun client center therapy menjawab bahwa kita akan selalu mendapatkan nilai, penghargaan dari manusia tanpa kamu menolak perilakunya.
Empati. Empati memiliki arti “turn in” artinya masuk lebih dalam dan mengerti dunia pribadi klien seakurat mungkin, dan dianggap sebagai dunia kita sendiri. “seolah olah” sangat penting. Terapis jangan sampai melupakan kualitas “seolah-olah”, atau akan kebingungan dengan batasan personalnya. Meskipun begitu, bekerja keras untuk memahami perasaan klien dan pandangan klien sangat memungkinkan, tanpa “menjadi” klien hal tersebut sulit terwujud.
Dalam client center therapy, terapis menunjukkan rasa empati, memahami klien adalah prioritas utama (Patterson, 1980). Empati tidak mudah, bukan hanya mengikuti kembali kata-kata yang diungkapkan klien. Lebih lanjut, terapis harus bisa menggabungkan perasaan dengan kata-kata yang diungkapkan klien.
Penelitian client center therapy. Kontribusi Rogers dalam psikoterapi merupakan inovasi yang memfokuskan klien sebagai agen perubahan untuk dirinya sendiri dan bersifat unik. Belakangan ini penelitian Rogers focus pada nondirective therapy.Dilihat dari sisi interaksi terapis, kuncinya adalah “jika terapis menerima,memahami, memperjelas perasaan klien, akan ada perubahan perasaan dari arah negative ke positif, diikuti dengan pemahaman dan aksi positif yang dimulai oleh klien (Bozareth et al,. 2002). Ketika pernyataan terapis diinterpretasikan atau dibentuk maka klien berhenti melakukan self-exploring. Sebaliknya jika terapis merefleksikan perasaan maka klien melanjutkan proses self-exploring.
Penelitian akhir akhir ini tentang client center therapy menyimpulkan hasil yang kebanyakan serupa dengan hipotesis Rogers. Komunikasi yang baik dari terapis, unconditional positive regard, dan empati akan memfasilitasi klien mengembangkan, namun dalam beberapa penelitian kelompok hal ini tidak terlalu adekuat (Rachman & Wilson, 1980).
Review dari publikasi tahun 1970an menyimpulkan bahwa hungan anara kondisi fasilitas dan pengembangan terapeutik adalah hal yang paling penting. Di beberapa penelitian, dibandingkan dengan psikoterapi tradisional, behavioral therapy (Sloane, Staples, Cristol, Yorkstone, & Whipple, 1975), kunci dari Rogerian adalah kondisi tidak berhubungan dengan hasil treatmen. Alasan yang memungkinkan dari kekurangan ini adalah pilihan peneliti untuk menggunakan kelompok dengan prestasi rendah dan anak yang nakal. Seperti meneliti mengenai penyesuaian diri penderia schizophrenia, peningkatan prestasi dan pencegahan individu yang nakal sangat sulit dinilai oleh psikoterapi.
Sejak tahun 1980an penelitian psikoterapi secara umum fokus pada evaluasi teknik treatment spesifik bagi beberpa gangguan. Penelitian mengenai client center therapy berfokus pada prosedur karena hal ini terlihat diabaikan pada hubungan klien dan terapis (Bozarth et al., 2002). Untuk beberapa tingkat, perbedaan perhatian menggambarkan perbedaan tujuan dan target perlakuan dari client center. Contoh, terapis behavior. Tujuan terapis client center secara umum adalah untuk mengembangkan fungsi kepribadian klien daripada menangani gangguan mental yang spesifik. Kritik untuk client center therapy adalah pendapat bahwa pertumbuhan personal melebihi batas tujuan daripada mencari jalan keluar penyelesaian sindrom sindrom gangguan tersebut misalya gangguan kecemasan, gangguan depresi, dan gangguan obsessive compulsive.
psikoterapi
1. Pengertian psikoterapi :
Menurut Watson (1977) psikoterapi dirumuskan sebagai bentuk khusus dari interaksi antara dua orang,pasien dan terapis,pada mana pasien memulai interaksi karena karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran ,perasaan dan tindakannya.
Menurut Corsini (1989) mengatakan bahwa psikoterapi proses formal dari interaksi antara dua pihak,setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang,tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak,dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut : fungsi kognitif (kelainan pada fungsi befikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidak tepatan perilaku) dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian,perkembangan,mempertahankan dan mengubah bersama sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagao terapis.
2. Tujuan psikoterapi :
1. Menurut Corey (1991)
a) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis adalah Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
b) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan tingkah laku adalah secara umum untuk menghilangkan perilaku dan mencari apa yang dapat dilakuakan dan mencari apa yang dapat dilakuakn terhadap perilaku yang menjadi masalah. Klien berperan aktif dalam menyusun terapi dan menilai bagaimana tujuan-tujuan ini bias tercapai.
c) Tujuan psikoterapi denagn pendekatan Kognitif-Behavioristik dan Rasional-Emotif adalah menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara lebih rasional dab toleran. Untuk membantu pasien mempergunakan metode yang lebih ilmiah atau objektif untuk memecahkan masalah emosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.
d) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Gestalt adalah membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamnnya. Untuk merangsangnya menerima tanggung jawab daridorongan yang ad di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
e) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Realitas adalah untuk membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa sebarapa jauh tindakannya berhasil.
2. Menurut Ivey, et al (1987)
a) Tujuan Psikoterapi dengan pendekatan Behavioristik adalah untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bias menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus ditentukan oleh klien.
b) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Gestalt, adalah agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
c) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Realitas adalah untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain. Untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya. Psikoterapi merupakan alat yang dapat membantu dan penting dipelajari khususnya oleh dokter dan para profesional lain yang berperan dalam kesehatan dan kesehatan jiwa, namun perlu pula diingat bahwa teknik dan metodenya yang tertentu dan bermacam-macam tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat dipelajari dan dipraktekkan dengan baik. Tentunya, dengan hanya membaca buku ajar yang singkat ini tidaklah mungkin mencakup keseluruhan hal mengenai psikoterapi, namun setidaknya prinsip-prinsip dasar psikoterapi dapat dipahami, untuk dapat diaplikasikan dalam praktek sehari-hari, sehingga dapat turut menunjang upaya peningkatan mutu pelayanan kepada pasien. Secara non spesifik, psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain; sebagai suatu yang spesifik atau khusus, sebagaimana telah disebutkan di atas, psikoterapi merupakan rangkaian teknik yang digunakan untuk mengubah perilaku (catatan: teknik merupakan rangkaian tindakan yang dibakukan untuk mendapatkan perubahan tertentu, bukan urutan perubahan alamiah, sehingga harus dilatih untuk mencapai ketrampilan optimal). Dengan psikoterapi, seorang dokter akan dapat memanfaatkan teknik-teknik untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapainya. Bila seorang dokter tidak mengerti atau memahaminya, sebetulnya bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya.
3. Unsur-unsur psikoterapi :
Masserman (1984) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi.
1. Peran social (martabat)
2. Hubungan (persekutuan tarapeutik)
3. Hak
4. Retrospeksi
5. Re-duksi
6. Rehabilitasi, memperbaiki gangguan perilaku berat
7. Resosialisasi,
8. Rekapitulasi
4. Perbedaan antara psikoterapi dan konseling :
Konseling: Merupakan proses membantu seseorang untuk belajar menyelesaikan masalah interpersonal, emosional dan memutuskan hal tertentu. Fokus pada masalah klien atau pasien. Percakapannya merupakan percakapan dua arah. Bentuknya terstruktur, yaitu terdiri atas: menyambut, membahas, membantu menetapkan pilihan, mengingatkan. Bertujuan membantu klien untuk mengenal dirinya, memahami permasalahannya, melihat peluang dan mencari alternatif penyelesaiannya. Memerlukan kemampuan melakukan komunikasi interpersonal. Konseling dilakukan dalam suasana yang menjamin rasa aman dan nyaman.
perbedaan dalam perkembangan mutakhir semakin sulit di temukan pokok-pokok perbedaan antara konseling dengan psikoterapi. Cara yang paling aman melacak perbedaan antara keduanya adalah dengan menyorotinya dari beberapa segi relevan. Konseling dan psikoterapi dapat dipandang berbeda lingkup pengertian antara keduanya. Istilah “psikoterapi” mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada suatu yang jelas, yaitu satu bentuk terapi psikologis. Tetapi pada lain segi, ia menunjuk pada sekelompok terapi psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah satu bentuk psikoterapi. Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan. Konseling dijalankan atas dasar (atau dijiwai oleh) falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi.
5. Pendekatan psikoterapi terhadap mental illness :
1.Terapi Psikoanalitik
Figur utama: Sigmund Freud, Figur-figur lain: Jung, Adler, Sullivan, Rank, Fromm, Horney, Erikson. Secara historis merupakan system psikoterapi pertama. Psikoterapi adalah suatu teori kepribadian, system filsafat, dan metode psikoterapi.
Pendekatan Freud psikoterapi harus dibicarakan ketika datang untuk mengobati kesehatan mental. Dia adalah orang pertama yang menemukan bahwa pasien membaik jika mereka berbicara dengan seorang terapis. Freud juga yang pertama kali mengembangkan teknik yang unik berbicara dalam psikoterapi dan teknik ini dikenal sebagai asosiasi bebas.
Dengan menggunakan teknik asosiasi bebas selama sesi psikoterapi, Freud dapat memulihkan kenangan lama terlupakan ditawan dalam pasien dan Freud percaya bahwa banyak dari kenangan ini adalah akibat dari gejala psikiatri yang dialami oleh pasien.
Pendekatan Freud psikoterapi menunjukkan bahwa seorang pasien dapat ditolong jika terapis mendengarkan dan ikut terlibat dalam apa yang dikatakan pasien. Ini benar-benar berlawanan dengan seorang terapis yang mendengarkan pasien dan menghabiskan sesi mencatat. Bahkan, Freud aktif dalam semua sesi yang ia telah dengan pasien dan percaya pada yang terlibat.
Saat ini banyak penelitian telah menunjukkan bahwa jika terapis yang aktif, empatik dan melibatkan diri selama sesi psikoterapi, hal ini sangat bermanfaat bagi pasien kesehatan mental dan pemulihan kemungkinan lebih tinggi.
Pendekatan Freud psikoterapi membuka pintu dan banyak terapis percaya dalam cara merawat pasien. Meskipun psikoterapi telah berevolusi dan berubah sejak Freud waktu, ada beberapa dasar terapis yang masih percaya dalam menggunakan pendekatan Freud karena membantu pasien mereka memenuhi tujuan mereka.
2. Terapi Eksistensial Huamnistik
Figur-figur utama: May, Maslow, Frankl, Jourard. ‘Kekuatan ketiga ‘ dalam psikologi ini dikembangkan sebagai reaksi melawan psikoanalisis dan behaviorisme yang dianggap tidak berlaku adil dalam mempelajari manusia.
3. Terapi Client-Centered
Pendiri: Carl Rogers. Semula adalah pendekatan nondirektif yang dikembangkan pada tahun 1940-an sebagai reaksi melawan pendekatan psikoanalitik. Berlandaskan pada pandangan subjektif atas pengalaman manusia, terapi clien-entered menaruh kepercayaan dan meminta tanggung jawab yang lain besar kepada klien dalam menangani berbagai permasalahan.
4. Terapi Gestalt
Pendiri: Fritz Perls. Sebagian besar merupakan terapi eksperimental yang menekankan kesadaran dan intergarsi, yang muncul sebagai reaksi melawan terapi analitik, serta mengintegarsikan fungsi jiwa dan badan.
5. Terapi Tarnsaksional
Pendiri: Eric Berne. Suatu model terapi kontemporer yang cndrung kea rah aspek-aspek kognitif dan behavioral, dan dirancang untuk membantu orang-orang dalam mengevaluasi putusan-putusan yang telah dibuatnya menurut kelayakan sekarang.
6. Terapi Tingkah Laku
Tokoh-tokoh utama: Wolpe, Eysenck, Lazarus, Salter. Suatu model terapi yang merupakan penerapan prinsip-prinsip belajar pada penyelesaian gangguan-gangguan tingkah laku yang spesifik. Hasil-hasilnya merupakan bahan bagi eksperimentasi lebih lanjut. Terapi tingkah laku secara sinambung berada dalam proses penyempurnaan.
7. Terapi Rasional-Emotif
Pendiri: Albert Ellis. Suatu model terapi yang sangat menekankn peranan pemikiran dan sistem –sistem kepercayaan sebagai akar masalah-masalah pribadi.
8. Terapi Realitas
Pendiri: William Glasser. Suatu model terapi yang dikembangkan sebagai reaksi melawan terapi konvensional. Terapi realitas adalah terapi jangka pendek yang focus pada saat sekarang, menekankan kekuatan pribadi, dan pada dasarnya merupakan jalan di mana para klien bias belajar mencapai keberhasilan.
6. Bentuk utama terapi :
Psikoterapi Humanistik
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan.
Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
Eksistensial Psychotherapies
Eksistensialis mencari makna eksistensi manusia, dan menekankan pilihan dan individualitas (sebagai lawan dari gagasan bahwa perilaku kita ditentukan dalam beberapa cara mekanistik). Martin Heidegger (1889-1976) biasanya disebut sebagai tokoh filsafat eksistensial modern. Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia adalah proses, terus berkembang untuk setiap individu. Tidak statis, tapi selalu menjadi sesuatu yang berbeda (Hergenhahn, 1992). Unsur-unsur filsafat eksistensial terlihat dalam bentuk psikoterapi yang dikembangkan oleh Ludrvig Binswanger dan lain-lain
Psikoterapis eksistensial fokus pada tema penting dari kehidupan dan masalah klien, tetapi penekanannya adalah pada kualitas hubungan terapeutik itu sendiri sebagai agen penting dari perubahan. Tugas psikoterapi eksistensial adalah menantang klien untuk memeriksa kehidupan mereka dan mempertimbangkan bagaimana kebebasan mereka terganggu. Yang membantu mereka untuk menghilangkan hambatan, meningkatkan rasa pilihan mereka, dan mengerahkan keinginan mereka.
Psikoterapi eksistensial berusaha untuk memahami makna yang unik dari sudut pandang pengalaman klien yang subjektif dari dalam diri individu atau dunia saat fenomenologisnya. Hubungan kolaboratif antara klien dan terapis adalah penyembuhan dalam dirinya sendiri, dan tidak bergantung konseptual pada "repair model" (Walsh & McElwain.2002, p.272).
Pendekatan eksistensial bukanlah bentuk yang paling banyak dipraktekkan psikoterapi, namun para praktisi melihatnya sebagai kontras yang menyegarkan untuk terapi mekanistik lebih bekerja keras dalam mempromosikannya, mengutip dukungan eksperimental berkembang di beberapa daerah (Cain & Seeman, 2002). Hal ini juga penting dalam mengatur adegan untuk terapi humanistik yang lebih populer, terutama Carl Rogers berpusat pada terapi klien.
Gestalt Therapy
Nama yang paling kuat terkait dengan terapi Gestalt adalah Frederick ("Fritz") Perls (1893-1970). Perls adalah seorang dokter Jerman yang awalnya dilatih dalam psikoanalisis, tetapi ia menjadi semakin tertarik pada ide-ide fenomenologis dan eksistensial dan akhirnya mengembangkan terapi Gestalt sebagai campuran psikoanalisis, eksistensial, dan pengaruh lainnya (Greenberg & Rice, 1997).
Psikolog Gestalt keberatan untuk mempelajari unsur-unsur tertentu dalam persepsi dan pembelajaran, dengan alasan bahwa kita tidak mengalami dunia dalam fragmen yang terisolasi tetapi dalam konfigurasi bermakna (Hergenhahn, 1992). Studi psikolog Gestalt 'persepsi dan pemecahan masalah menunjukkan bahwa kita cenderung untuk melihat pola, bukan rangsangan terisolasi, dan bahwa orang-orang dan hewan dapat memecahkan masalah dalam kilatan wawasan di mana kita tiba-tiba "melihat" solusi bukan oleh Leaming esensial-and-error yang membosankan.
Para psikolog Gestalt Kurt Koffka, Wolfgang Kohler, dan Max Wertheimer mengembangkan sistem mereka sebagai teori medan di mana struktur yang diciptakan oleh kimia otak memaksakan agar pada apa yang kita rasakan, sementara pada saat yang sama pola apa yang dirasakan secara bertahap dapat membentuk tata letak otak manusia (Hergenhahn, 1992).
Gestalt Therapy Konsep.
Studi Perls tentang psikologi Gestalt memberinya pandangan holistik fungsi fisik dan psikologis manusia, dan menuntunnya untuk melihat orang tersebut sebagai bagian dari suatu organisme / lingkungan lapangan (Greenberg & Beras 1997,. p. 102). Istri Perls dan kolega, Laura Posner Perls, melakukan pendekatan terapi Gestalt dengan dia. Mereka mengembangkan terapi Gestalt afier meninggalkan Jerman pada tahun 1930-an untuk Belanda, maka Afrika Selatan, dan kemudian Amerika Serikat dan Kanada (Yontef, 1995). Konsisten dengan teori medan, dalam pendekatan mereka terhadap psikopatologi dan psikoterapi Fritz Perls dan Laura dan rekan mereka terfokus pada proses, atau pengembangan masyarakat dari waktu ke waktu, bukan struktur kepribadian statis, seperti yang tersirat oleh model psikoanalitik tradisional. Perls fritz dilihat seseorang sebagai sangat banyak sedang berlangsung acara-fisik, proses yang kompleks dan terus mencerna makanan, membangun dan mogok kimia dalam saraf dan otot, dan sebagainya, dan psikologis, interaksi terus menerus dari orang dengan fluks yang selalu berubah rangsangan internal dan eksternal. Terapis Gestalt menggunakan metabolisme mental yang panjang sebagai metafora untuk proses melalui mana orang tumbuh secara emosional (Yontet 1995).
Dalam Perls klinis mereka bekerja Fritz dan Laura menekankan kesadaran sensasi tubuh saat ini, percobaan aktif dalam bentuk latihan ini yang dirancang untuk membantu klien mendapatkan berhubungan dengan pengalaman langsung mereka, dan pertemuan yang tulus dengan orang lain. Unsur-unsur ini semuanya telah dimasukkan ke dalam humanistik kontemporer dan terapi pengalaman (Greenberg & Rice, 1997; Yontef 1995).
Insight adalah konsep penting dalam terapi Gestalt. Insight adalah bentuk kesadaran di mana segala sesuatu jatuh ke tempatnya dalam pola meaningfur. Psikoterapi dapat membantu orang mengembangkan wawasan kesadaran diri ketika hal ini tidak terjadi secara alami. Sebagai terapi intervention Gestalt berfokus pada proses pengalaman daripada konten dan didasarkan pada interaksi di sini dan sekarang antara terapis dan klien. Lagu-lagu terapis ke dalam angka-angka yang muncul dari latar belakang selama interaksi terapeutik dan mencoba untuk mendapatkan wawasan mereka (Yontef, 1995).
Gestalt Terapi sering dikaitkan dengan beberapa teknik dramatis yang baik dipublikasikan pada tahun 1960 dan 1970-an. Ini termasuk teknik “empty chair” untuk berurusan dengan "belum selesai" dengan orang lain, dan penutupan sehingga mendapatkan. Dalam teknik menghadapi kursi kosong ini, kontak orang yang imajiner lainnya untuk mengekspresikan emosi yang menyakitkan yang sebelumnya menghambat (Strumpfel & Goldman, 2002, p.197). Terapis Gestalt menentang gagasan bahwa ada set teknik mapan yang mendefinisikan pendekatan. Seperti dalam kasus pendekatan terapi lainnya, prinsip-prinsip terapi jauh lebih penting daripada teknik tertentu yang dapat digunakan (yontef, 1955).
Seperti psikoterapi eksistensial, Gestalt terapi tidak umum dilakukan sebagai pendekatan “free standing”. Namun, itu telah memiliki pengaruh yang kuat pada sekolah humanistik lainnya, dan beberapa strategi dan prinsip telah populer di kalangan terapis eklektik.
Client-Centered Therapy
Pengenalan Carl Rogers “Clien-Centered Therapy” pada tahun 1940 adalah peristiwa penting dalam meluncurkan terapi humanistik sebagai kekuatan yang signifikan dalam psikoterapi Amerika. Asumsi utama Rogers adalah bahwa klien mengarahkan pertumbuhan pribadi mereka sendiri, dibantu oleh sumber daya batin mereka sendiri. Proses terapis ini membantu bersama dengan menyiapkan iklim yang paling fasilitatif, hubungan interpersonal yang hangat yang ditandai dengan keaslian terapis, hal positif tanpa syarat, dan empati (Raskin & Rogers).
Dipengaruhi oleh Maslow, Rogers percaya bahwa drive bawaan individu untuk aktualisasi diri semua bahwa salah satu kebutuhan untuk memecahkan masalah pribadi dan emosional dan menjalani kehidupan yang memuaskan. Tugas terapis adalah untuk membebaskan proses ini ketika telah menjadi diblokir, biasanya ketika individu telah kehilangan kontak dengan nya atau rasa sendiri tentang apa yang terasa benar dan bergantian, sebagai gantinya, untuk menerima penghakiman dan mencari persetujuan dari orang lain.
Konsisten dengan teori ini, Rogers memberikan konselor dan psikoterapis rekomendasi: Jangan memecahkan masalah, tapi membantu klien tumbuh. Mengandalkan pada drive individu terhadap penyesuaian dan perkembangan yang sehat. Tekankan emosional, bukan intelektual, unsur-unsur dalam proses konseling. Fokus pada situasi mendesak, bukan masa lalu. Tekankan hubungan terapeutik itu sendiri sebagai pengalaman pertumbuhan (Kain, 2002; Rogers, 1940, 1942).
Memperkuat asumsi teoritis dalam artikel selanjutnya, "The Necessary and Sufficient Conditions of Theurapeutic Personality Change" (Rogers, 1957), ia membuat poin-poin berikut. Dua orang, klien dan terapis, berada dalam kontak psikologis. Klien adalah keadaan ketidaksesuaian (rentan atau cemas). Terapis adalah sama dan sebangun atau terintegrasi-otentik, konsisten-dalam hubungan. Terapis mengalami hal positif tanpa syarat untuk klien, dan pengalaman pemahaman empatik dari frame internal klien acuan. Terapis menyampaikan pemahaman empatik nya dan hal positif tanpa syarat kepada klien, dan komunikasi dari pengalaman ini efektif (Cain, 2002).
Genuineness. Ketika terapis yang asli (atau kongruen) dalam hubungan terapeutik, mereka alami dan polos, hanya menjadi diri sendiri, daripada menempatkan pada gambar palsu atau bahkan gambar seorang terapis profesional. Kebalikan dari keaslian dalam arti Rogerian akan menjadi “game face” yang dapat ditampilkan sebagai langkah pertama menghitung dirancang untuk mendapatkan beberapa keuntungan.
Unconditional positive regard. Menerima klien tanpa syarat berarti tidak berkewajiban memperoleh nilai hakikat manusia, secara otomatis terapis akan menerima klien dengan masalah apapun. Namun banyak keraguan dari teknik client center therapy jika menghadapi anak yang mengganggu dan pembunuh, namun client center therapy menjawab bahwa kita akan selalu mendapatkan nilai, penghargaan dari manusia tanpa kamu menolak perilakunya.
Empati. Empati memiliki arti “turn in” artinya masuk lebih dalam dan mengerti dunia pribadi klien seakurat mungkin, dan dianggap sebagai dunia kita sendiri. “seolah olah” sangat penting. Terapis jangan sampai melupakan kualitas “seolah-olah”, atau akan kebingungan dengan batasan personalnya. Meskipun begitu, bekerja keras untuk memahami perasaan klien dan pandangan klien sangat memungkinkan, tanpa “menjadi” klien hal tersebut sulit terwujud.
Dalam client center therapy, terapis menunjukkan rasa empati, memahami klien adalah prioritas utama (Patterson, 1980). Empati tidak mudah, bukan hanya mengikuti kembali kata-kata yang diungkapkan klien. Lebih lanjut, terapis harus bisa menggabungkan perasaan dengan kata-kata yang diungkapkan klien.
Penelitian client center therapy. Kontribusi Rogers dalam psikoterapi merupakan inovasi yang memfokuskan klien sebagai agen perubahan untuk dirinya sendiri dan bersifat unik. Belakangan ini penelitian Rogers focus pada nondirective therapy.Dilihat dari sisi interaksi terapis, kuncinya adalah “jika terapis menerima,memahami, memperjelas perasaan klien, akan ada perubahan perasaan dari arah negative ke positif, diikuti dengan pemahaman dan aksi positif yang dimulai oleh klien (Bozareth et al,. 2002). Ketika pernyataan terapis diinterpretasikan atau dibentuk maka klien berhenti melakukan self-exploring. Sebaliknya jika terapis merefleksikan perasaan maka klien melanjutkan proses self-exploring.
Penelitian akhir akhir ini tentang client center therapy menyimpulkan hasil yang kebanyakan serupa dengan hipotesis Rogers. Komunikasi yang baik dari terapis, unconditional positive regard, dan empati akan memfasilitasi klien mengembangkan, namun dalam beberapa penelitian kelompok hal ini tidak terlalu adekuat (Rachman & Wilson, 1980).
Review dari publikasi tahun 1970an menyimpulkan bahwa hungan anara kondisi fasilitas dan pengembangan terapeutik adalah hal yang paling penting. Di beberapa penelitian, dibandingkan dengan psikoterapi tradisional, behavioral therapy (Sloane, Staples, Cristol, Yorkstone, & Whipple, 1975), kunci dari Rogerian adalah kondisi tidak berhubungan dengan hasil treatmen. Alasan yang memungkinkan dari kekurangan ini adalah pilihan peneliti untuk menggunakan kelompok dengan prestasi rendah dan anak yang nakal. Seperti meneliti mengenai penyesuaian diri penderia schizophrenia, peningkatan prestasi dan pencegahan individu yang nakal sangat sulit dinilai oleh psikoterapi.
Sejak tahun 1980an penelitian psikoterapi secara umum fokus pada evaluasi teknik treatment spesifik bagi beberpa gangguan. Penelitian mengenai client center therapy berfokus pada prosedur karena hal ini terlihat diabaikan pada hubungan klien dan terapis (Bozarth et al., 2002). Untuk beberapa tingkat, perbedaan perhatian menggambarkan perbedaan tujuan dan target perlakuan dari client center. Contoh, terapis behavior. Tujuan terapis client center secara umum adalah untuk mengembangkan fungsi kepribadian klien daripada menangani gangguan mental yang spesifik. Kritik untuk client center therapy adalah pendapat bahwa pertumbuhan personal melebihi batas tujuan daripada mencari jalan keluar penyelesaian sindrom sindrom gangguan tersebut misalya gangguan kecemasan, gangguan depresi, dan gangguan obsessive compulsive.
Menurut Watson (1977) psikoterapi dirumuskan sebagai bentuk khusus dari interaksi antara dua orang,pasien dan terapis,pada mana pasien memulai interaksi karena karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran ,perasaan dan tindakannya.
Menurut Corsini (1989) mengatakan bahwa psikoterapi proses formal dari interaksi antara dua pihak,setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang,tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak,dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut : fungsi kognitif (kelainan pada fungsi befikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidak tepatan perilaku) dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian,perkembangan,mempertahankan dan mengubah bersama sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagao terapis.
2. Tujuan psikoterapi :
1. Menurut Corey (1991)
a) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis adalah Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
b) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan tingkah laku adalah secara umum untuk menghilangkan perilaku dan mencari apa yang dapat dilakuakan dan mencari apa yang dapat dilakuakn terhadap perilaku yang menjadi masalah. Klien berperan aktif dalam menyusun terapi dan menilai bagaimana tujuan-tujuan ini bias tercapai.
c) Tujuan psikoterapi denagn pendekatan Kognitif-Behavioristik dan Rasional-Emotif adalah menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara lebih rasional dab toleran. Untuk membantu pasien mempergunakan metode yang lebih ilmiah atau objektif untuk memecahkan masalah emosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.
d) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Gestalt adalah membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamnnya. Untuk merangsangnya menerima tanggung jawab daridorongan yang ad di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
e) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Realitas adalah untuk membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa sebarapa jauh tindakannya berhasil.
2. Menurut Ivey, et al (1987)
a) Tujuan Psikoterapi dengan pendekatan Behavioristik adalah untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bias menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus ditentukan oleh klien.
b) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Gestalt, adalah agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
c) Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Realitas adalah untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain. Untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya. Psikoterapi merupakan alat yang dapat membantu dan penting dipelajari khususnya oleh dokter dan para profesional lain yang berperan dalam kesehatan dan kesehatan jiwa, namun perlu pula diingat bahwa teknik dan metodenya yang tertentu dan bermacam-macam tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat dipelajari dan dipraktekkan dengan baik. Tentunya, dengan hanya membaca buku ajar yang singkat ini tidaklah mungkin mencakup keseluruhan hal mengenai psikoterapi, namun setidaknya prinsip-prinsip dasar psikoterapi dapat dipahami, untuk dapat diaplikasikan dalam praktek sehari-hari, sehingga dapat turut menunjang upaya peningkatan mutu pelayanan kepada pasien. Secara non spesifik, psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain; sebagai suatu yang spesifik atau khusus, sebagaimana telah disebutkan di atas, psikoterapi merupakan rangkaian teknik yang digunakan untuk mengubah perilaku (catatan: teknik merupakan rangkaian tindakan yang dibakukan untuk mendapatkan perubahan tertentu, bukan urutan perubahan alamiah, sehingga harus dilatih untuk mencapai ketrampilan optimal). Dengan psikoterapi, seorang dokter akan dapat memanfaatkan teknik-teknik untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapainya. Bila seorang dokter tidak mengerti atau memahaminya, sebetulnya bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya.
3. Unsur-unsur psikoterapi :
Masserman (1984) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi.
1. Peran social (martabat)
2. Hubungan (persekutuan tarapeutik)
3. Hak
4. Retrospeksi
5. Re-duksi
6. Rehabilitasi, memperbaiki gangguan perilaku berat
7. Resosialisasi,
8. Rekapitulasi
4. Perbedaan antara psikoterapi dan konseling :
Konseling: Merupakan proses membantu seseorang untuk belajar menyelesaikan masalah interpersonal, emosional dan memutuskan hal tertentu. Fokus pada masalah klien atau pasien. Percakapannya merupakan percakapan dua arah. Bentuknya terstruktur, yaitu terdiri atas: menyambut, membahas, membantu menetapkan pilihan, mengingatkan. Bertujuan membantu klien untuk mengenal dirinya, memahami permasalahannya, melihat peluang dan mencari alternatif penyelesaiannya. Memerlukan kemampuan melakukan komunikasi interpersonal. Konseling dilakukan dalam suasana yang menjamin rasa aman dan nyaman.
perbedaan dalam perkembangan mutakhir semakin sulit di temukan pokok-pokok perbedaan antara konseling dengan psikoterapi. Cara yang paling aman melacak perbedaan antara keduanya adalah dengan menyorotinya dari beberapa segi relevan. Konseling dan psikoterapi dapat dipandang berbeda lingkup pengertian antara keduanya. Istilah “psikoterapi” mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada suatu yang jelas, yaitu satu bentuk terapi psikologis. Tetapi pada lain segi, ia menunjuk pada sekelompok terapi psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah satu bentuk psikoterapi. Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan. Konseling dijalankan atas dasar (atau dijiwai oleh) falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi.
5. Pendekatan psikoterapi terhadap mental illness :
1.Terapi Psikoanalitik
Figur utama: Sigmund Freud, Figur-figur lain: Jung, Adler, Sullivan, Rank, Fromm, Horney, Erikson. Secara historis merupakan system psikoterapi pertama. Psikoterapi adalah suatu teori kepribadian, system filsafat, dan metode psikoterapi.
Pendekatan Freud psikoterapi harus dibicarakan ketika datang untuk mengobati kesehatan mental. Dia adalah orang pertama yang menemukan bahwa pasien membaik jika mereka berbicara dengan seorang terapis. Freud juga yang pertama kali mengembangkan teknik yang unik berbicara dalam psikoterapi dan teknik ini dikenal sebagai asosiasi bebas.
Dengan menggunakan teknik asosiasi bebas selama sesi psikoterapi, Freud dapat memulihkan kenangan lama terlupakan ditawan dalam pasien dan Freud percaya bahwa banyak dari kenangan ini adalah akibat dari gejala psikiatri yang dialami oleh pasien.
Pendekatan Freud psikoterapi menunjukkan bahwa seorang pasien dapat ditolong jika terapis mendengarkan dan ikut terlibat dalam apa yang dikatakan pasien. Ini benar-benar berlawanan dengan seorang terapis yang mendengarkan pasien dan menghabiskan sesi mencatat. Bahkan, Freud aktif dalam semua sesi yang ia telah dengan pasien dan percaya pada yang terlibat.
Saat ini banyak penelitian telah menunjukkan bahwa jika terapis yang aktif, empatik dan melibatkan diri selama sesi psikoterapi, hal ini sangat bermanfaat bagi pasien kesehatan mental dan pemulihan kemungkinan lebih tinggi.
Pendekatan Freud psikoterapi membuka pintu dan banyak terapis percaya dalam cara merawat pasien. Meskipun psikoterapi telah berevolusi dan berubah sejak Freud waktu, ada beberapa dasar terapis yang masih percaya dalam menggunakan pendekatan Freud karena membantu pasien mereka memenuhi tujuan mereka.
2. Terapi Eksistensial Huamnistik
Figur-figur utama: May, Maslow, Frankl, Jourard. ‘Kekuatan ketiga ‘ dalam psikologi ini dikembangkan sebagai reaksi melawan psikoanalisis dan behaviorisme yang dianggap tidak berlaku adil dalam mempelajari manusia.
3. Terapi Client-Centered
Pendiri: Carl Rogers. Semula adalah pendekatan nondirektif yang dikembangkan pada tahun 1940-an sebagai reaksi melawan pendekatan psikoanalitik. Berlandaskan pada pandangan subjektif atas pengalaman manusia, terapi clien-entered menaruh kepercayaan dan meminta tanggung jawab yang lain besar kepada klien dalam menangani berbagai permasalahan.
4. Terapi Gestalt
Pendiri: Fritz Perls. Sebagian besar merupakan terapi eksperimental yang menekankan kesadaran dan intergarsi, yang muncul sebagai reaksi melawan terapi analitik, serta mengintegarsikan fungsi jiwa dan badan.
5. Terapi Tarnsaksional
Pendiri: Eric Berne. Suatu model terapi kontemporer yang cndrung kea rah aspek-aspek kognitif dan behavioral, dan dirancang untuk membantu orang-orang dalam mengevaluasi putusan-putusan yang telah dibuatnya menurut kelayakan sekarang.
6. Terapi Tingkah Laku
Tokoh-tokoh utama: Wolpe, Eysenck, Lazarus, Salter. Suatu model terapi yang merupakan penerapan prinsip-prinsip belajar pada penyelesaian gangguan-gangguan tingkah laku yang spesifik. Hasil-hasilnya merupakan bahan bagi eksperimentasi lebih lanjut. Terapi tingkah laku secara sinambung berada dalam proses penyempurnaan.
7. Terapi Rasional-Emotif
Pendiri: Albert Ellis. Suatu model terapi yang sangat menekankn peranan pemikiran dan sistem –sistem kepercayaan sebagai akar masalah-masalah pribadi.
8. Terapi Realitas
Pendiri: William Glasser. Suatu model terapi yang dikembangkan sebagai reaksi melawan terapi konvensional. Terapi realitas adalah terapi jangka pendek yang focus pada saat sekarang, menekankan kekuatan pribadi, dan pada dasarnya merupakan jalan di mana para klien bias belajar mencapai keberhasilan.
6. Bentuk utama terapi :
Psikoterapi Humanistik
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan.
Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
Eksistensial Psychotherapies
Eksistensialis mencari makna eksistensi manusia, dan menekankan pilihan dan individualitas (sebagai lawan dari gagasan bahwa perilaku kita ditentukan dalam beberapa cara mekanistik). Martin Heidegger (1889-1976) biasanya disebut sebagai tokoh filsafat eksistensial modern. Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia adalah proses, terus berkembang untuk setiap individu. Tidak statis, tapi selalu menjadi sesuatu yang berbeda (Hergenhahn, 1992). Unsur-unsur filsafat eksistensial terlihat dalam bentuk psikoterapi yang dikembangkan oleh Ludrvig Binswanger dan lain-lain
Psikoterapis eksistensial fokus pada tema penting dari kehidupan dan masalah klien, tetapi penekanannya adalah pada kualitas hubungan terapeutik itu sendiri sebagai agen penting dari perubahan. Tugas psikoterapi eksistensial adalah menantang klien untuk memeriksa kehidupan mereka dan mempertimbangkan bagaimana kebebasan mereka terganggu. Yang membantu mereka untuk menghilangkan hambatan, meningkatkan rasa pilihan mereka, dan mengerahkan keinginan mereka.
Psikoterapi eksistensial berusaha untuk memahami makna yang unik dari sudut pandang pengalaman klien yang subjektif dari dalam diri individu atau dunia saat fenomenologisnya. Hubungan kolaboratif antara klien dan terapis adalah penyembuhan dalam dirinya sendiri, dan tidak bergantung konseptual pada "repair model" (Walsh & McElwain.2002, p.272).
Pendekatan eksistensial bukanlah bentuk yang paling banyak dipraktekkan psikoterapi, namun para praktisi melihatnya sebagai kontras yang menyegarkan untuk terapi mekanistik lebih bekerja keras dalam mempromosikannya, mengutip dukungan eksperimental berkembang di beberapa daerah (Cain & Seeman, 2002). Hal ini juga penting dalam mengatur adegan untuk terapi humanistik yang lebih populer, terutama Carl Rogers berpusat pada terapi klien.
Gestalt Therapy
Nama yang paling kuat terkait dengan terapi Gestalt adalah Frederick ("Fritz") Perls (1893-1970). Perls adalah seorang dokter Jerman yang awalnya dilatih dalam psikoanalisis, tetapi ia menjadi semakin tertarik pada ide-ide fenomenologis dan eksistensial dan akhirnya mengembangkan terapi Gestalt sebagai campuran psikoanalisis, eksistensial, dan pengaruh lainnya (Greenberg & Rice, 1997).
Psikolog Gestalt keberatan untuk mempelajari unsur-unsur tertentu dalam persepsi dan pembelajaran, dengan alasan bahwa kita tidak mengalami dunia dalam fragmen yang terisolasi tetapi dalam konfigurasi bermakna (Hergenhahn, 1992). Studi psikolog Gestalt 'persepsi dan pemecahan masalah menunjukkan bahwa kita cenderung untuk melihat pola, bukan rangsangan terisolasi, dan bahwa orang-orang dan hewan dapat memecahkan masalah dalam kilatan wawasan di mana kita tiba-tiba "melihat" solusi bukan oleh Leaming esensial-and-error yang membosankan.
Para psikolog Gestalt Kurt Koffka, Wolfgang Kohler, dan Max Wertheimer mengembangkan sistem mereka sebagai teori medan di mana struktur yang diciptakan oleh kimia otak memaksakan agar pada apa yang kita rasakan, sementara pada saat yang sama pola apa yang dirasakan secara bertahap dapat membentuk tata letak otak manusia (Hergenhahn, 1992).
Gestalt Therapy Konsep.
Studi Perls tentang psikologi Gestalt memberinya pandangan holistik fungsi fisik dan psikologis manusia, dan menuntunnya untuk melihat orang tersebut sebagai bagian dari suatu organisme / lingkungan lapangan (Greenberg & Beras 1997,. p. 102). Istri Perls dan kolega, Laura Posner Perls, melakukan pendekatan terapi Gestalt dengan dia. Mereka mengembangkan terapi Gestalt afier meninggalkan Jerman pada tahun 1930-an untuk Belanda, maka Afrika Selatan, dan kemudian Amerika Serikat dan Kanada (Yontef, 1995). Konsisten dengan teori medan, dalam pendekatan mereka terhadap psikopatologi dan psikoterapi Fritz Perls dan Laura dan rekan mereka terfokus pada proses, atau pengembangan masyarakat dari waktu ke waktu, bukan struktur kepribadian statis, seperti yang tersirat oleh model psikoanalitik tradisional. Perls fritz dilihat seseorang sebagai sangat banyak sedang berlangsung acara-fisik, proses yang kompleks dan terus mencerna makanan, membangun dan mogok kimia dalam saraf dan otot, dan sebagainya, dan psikologis, interaksi terus menerus dari orang dengan fluks yang selalu berubah rangsangan internal dan eksternal. Terapis Gestalt menggunakan metabolisme mental yang panjang sebagai metafora untuk proses melalui mana orang tumbuh secara emosional (Yontet 1995).
Dalam Perls klinis mereka bekerja Fritz dan Laura menekankan kesadaran sensasi tubuh saat ini, percobaan aktif dalam bentuk latihan ini yang dirancang untuk membantu klien mendapatkan berhubungan dengan pengalaman langsung mereka, dan pertemuan yang tulus dengan orang lain. Unsur-unsur ini semuanya telah dimasukkan ke dalam humanistik kontemporer dan terapi pengalaman (Greenberg & Rice, 1997; Yontef 1995).
Insight adalah konsep penting dalam terapi Gestalt. Insight adalah bentuk kesadaran di mana segala sesuatu jatuh ke tempatnya dalam pola meaningfur. Psikoterapi dapat membantu orang mengembangkan wawasan kesadaran diri ketika hal ini tidak terjadi secara alami. Sebagai terapi intervention Gestalt berfokus pada proses pengalaman daripada konten dan didasarkan pada interaksi di sini dan sekarang antara terapis dan klien. Lagu-lagu terapis ke dalam angka-angka yang muncul dari latar belakang selama interaksi terapeutik dan mencoba untuk mendapatkan wawasan mereka (Yontef, 1995).
Gestalt Terapi sering dikaitkan dengan beberapa teknik dramatis yang baik dipublikasikan pada tahun 1960 dan 1970-an. Ini termasuk teknik “empty chair” untuk berurusan dengan "belum selesai" dengan orang lain, dan penutupan sehingga mendapatkan. Dalam teknik menghadapi kursi kosong ini, kontak orang yang imajiner lainnya untuk mengekspresikan emosi yang menyakitkan yang sebelumnya menghambat (Strumpfel & Goldman, 2002, p.197). Terapis Gestalt menentang gagasan bahwa ada set teknik mapan yang mendefinisikan pendekatan. Seperti dalam kasus pendekatan terapi lainnya, prinsip-prinsip terapi jauh lebih penting daripada teknik tertentu yang dapat digunakan (yontef, 1955).
Seperti psikoterapi eksistensial, Gestalt terapi tidak umum dilakukan sebagai pendekatan “free standing”. Namun, itu telah memiliki pengaruh yang kuat pada sekolah humanistik lainnya, dan beberapa strategi dan prinsip telah populer di kalangan terapis eklektik.
Client-Centered Therapy
Pengenalan Carl Rogers “Clien-Centered Therapy” pada tahun 1940 adalah peristiwa penting dalam meluncurkan terapi humanistik sebagai kekuatan yang signifikan dalam psikoterapi Amerika. Asumsi utama Rogers adalah bahwa klien mengarahkan pertumbuhan pribadi mereka sendiri, dibantu oleh sumber daya batin mereka sendiri. Proses terapis ini membantu bersama dengan menyiapkan iklim yang paling fasilitatif, hubungan interpersonal yang hangat yang ditandai dengan keaslian terapis, hal positif tanpa syarat, dan empati (Raskin & Rogers).
Dipengaruhi oleh Maslow, Rogers percaya bahwa drive bawaan individu untuk aktualisasi diri semua bahwa salah satu kebutuhan untuk memecahkan masalah pribadi dan emosional dan menjalani kehidupan yang memuaskan. Tugas terapis adalah untuk membebaskan proses ini ketika telah menjadi diblokir, biasanya ketika individu telah kehilangan kontak dengan nya atau rasa sendiri tentang apa yang terasa benar dan bergantian, sebagai gantinya, untuk menerima penghakiman dan mencari persetujuan dari orang lain.
Konsisten dengan teori ini, Rogers memberikan konselor dan psikoterapis rekomendasi: Jangan memecahkan masalah, tapi membantu klien tumbuh. Mengandalkan pada drive individu terhadap penyesuaian dan perkembangan yang sehat. Tekankan emosional, bukan intelektual, unsur-unsur dalam proses konseling. Fokus pada situasi mendesak, bukan masa lalu. Tekankan hubungan terapeutik itu sendiri sebagai pengalaman pertumbuhan (Kain, 2002; Rogers, 1940, 1942).
Memperkuat asumsi teoritis dalam artikel selanjutnya, "The Necessary and Sufficient Conditions of Theurapeutic Personality Change" (Rogers, 1957), ia membuat poin-poin berikut. Dua orang, klien dan terapis, berada dalam kontak psikologis. Klien adalah keadaan ketidaksesuaian (rentan atau cemas). Terapis adalah sama dan sebangun atau terintegrasi-otentik, konsisten-dalam hubungan. Terapis mengalami hal positif tanpa syarat untuk klien, dan pengalaman pemahaman empatik dari frame internal klien acuan. Terapis menyampaikan pemahaman empatik nya dan hal positif tanpa syarat kepada klien, dan komunikasi dari pengalaman ini efektif (Cain, 2002).
Genuineness. Ketika terapis yang asli (atau kongruen) dalam hubungan terapeutik, mereka alami dan polos, hanya menjadi diri sendiri, daripada menempatkan pada gambar palsu atau bahkan gambar seorang terapis profesional. Kebalikan dari keaslian dalam arti Rogerian akan menjadi “game face” yang dapat ditampilkan sebagai langkah pertama menghitung dirancang untuk mendapatkan beberapa keuntungan.
Unconditional positive regard. Menerima klien tanpa syarat berarti tidak berkewajiban memperoleh nilai hakikat manusia, secara otomatis terapis akan menerima klien dengan masalah apapun. Namun banyak keraguan dari teknik client center therapy jika menghadapi anak yang mengganggu dan pembunuh, namun client center therapy menjawab bahwa kita akan selalu mendapatkan nilai, penghargaan dari manusia tanpa kamu menolak perilakunya.
Empati. Empati memiliki arti “turn in” artinya masuk lebih dalam dan mengerti dunia pribadi klien seakurat mungkin, dan dianggap sebagai dunia kita sendiri. “seolah olah” sangat penting. Terapis jangan sampai melupakan kualitas “seolah-olah”, atau akan kebingungan dengan batasan personalnya. Meskipun begitu, bekerja keras untuk memahami perasaan klien dan pandangan klien sangat memungkinkan, tanpa “menjadi” klien hal tersebut sulit terwujud.
Dalam client center therapy, terapis menunjukkan rasa empati, memahami klien adalah prioritas utama (Patterson, 1980). Empati tidak mudah, bukan hanya mengikuti kembali kata-kata yang diungkapkan klien. Lebih lanjut, terapis harus bisa menggabungkan perasaan dengan kata-kata yang diungkapkan klien.
Penelitian client center therapy. Kontribusi Rogers dalam psikoterapi merupakan inovasi yang memfokuskan klien sebagai agen perubahan untuk dirinya sendiri dan bersifat unik. Belakangan ini penelitian Rogers focus pada nondirective therapy.Dilihat dari sisi interaksi terapis, kuncinya adalah “jika terapis menerima,memahami, memperjelas perasaan klien, akan ada perubahan perasaan dari arah negative ke positif, diikuti dengan pemahaman dan aksi positif yang dimulai oleh klien (Bozareth et al,. 2002). Ketika pernyataan terapis diinterpretasikan atau dibentuk maka klien berhenti melakukan self-exploring. Sebaliknya jika terapis merefleksikan perasaan maka klien melanjutkan proses self-exploring.
Penelitian akhir akhir ini tentang client center therapy menyimpulkan hasil yang kebanyakan serupa dengan hipotesis Rogers. Komunikasi yang baik dari terapis, unconditional positive regard, dan empati akan memfasilitasi klien mengembangkan, namun dalam beberapa penelitian kelompok hal ini tidak terlalu adekuat (Rachman & Wilson, 1980).
Review dari publikasi tahun 1970an menyimpulkan bahwa hungan anara kondisi fasilitas dan pengembangan terapeutik adalah hal yang paling penting. Di beberapa penelitian, dibandingkan dengan psikoterapi tradisional, behavioral therapy (Sloane, Staples, Cristol, Yorkstone, & Whipple, 1975), kunci dari Rogerian adalah kondisi tidak berhubungan dengan hasil treatmen. Alasan yang memungkinkan dari kekurangan ini adalah pilihan peneliti untuk menggunakan kelompok dengan prestasi rendah dan anak yang nakal. Seperti meneliti mengenai penyesuaian diri penderia schizophrenia, peningkatan prestasi dan pencegahan individu yang nakal sangat sulit dinilai oleh psikoterapi.
Sejak tahun 1980an penelitian psikoterapi secara umum fokus pada evaluasi teknik treatment spesifik bagi beberpa gangguan. Penelitian mengenai client center therapy berfokus pada prosedur karena hal ini terlihat diabaikan pada hubungan klien dan terapis (Bozarth et al., 2002). Untuk beberapa tingkat, perbedaan perhatian menggambarkan perbedaan tujuan dan target perlakuan dari client center. Contoh, terapis behavior. Tujuan terapis client center secara umum adalah untuk mengembangkan fungsi kepribadian klien daripada menangani gangguan mental yang spesifik. Kritik untuk client center therapy adalah pendapat bahwa pertumbuhan personal melebihi batas tujuan daripada mencari jalan keluar penyelesaian sindrom sindrom gangguan tersebut misalya gangguan kecemasan, gangguan depresi, dan gangguan obsessive compulsive.
Minggu, 07 Oktober 2012
psikologi lintas budaya 1
Nama : Sella Mariana
Kelas : 2pa09
Npm : 16510433
Tugas psikologi Lintas Budaya (softskill)
1. Jelaskan pengertian psikologi lintas budaya ?
Jawab :
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut.
2. Tujuan mempelajari psikologi lintas budaya ?
Jawab :
Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam berbagai budaya dan kelompok etnik.
3. Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lainnya ?
Jawab :
Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling membantu, saling mengisi satu sama lain.
• Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hubungan antar individu, dan antar individu dan kelompok dalam perilaku social. Melihat pengertian sosiologi jelas hubungan psikologi lintas budaya dan sosiologi amat erat. Lalu seiring berjalannya waktu kita lebih mudah mengatakan psikologi lintas budaya karena kita melihat hubungan yang erat antar kedua ilmu tsb. Psikologi lintas budaya mempelajari mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut. objeknya pada individu tersebut. Psikologi lintas budaya dan Sosiologi sama- sama mempelajari perilaku hubungan antar individu.
• Menurut kamus Bahasa Indonesia, antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang asal- usul manusia, kepercayaannya, bentuk fisik, warna kulit, dan budayanya di masa silam. Karena eratnya hubungan psikologi dan antropologi sehingga muncullah sub ilmu yang salah satunya bernama anthropology in mental health, pada sub ilmu ini sangat terlihat bahwa psikologi dan antropologi saling terkait, seperti contoh bahwa penyakit jiwa tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh kelainan biologis namun juga oleh emosi atau mental yang tertekan sehingga membuat orang tersebut mengalami penyakit jiwa, keadaan jiwa manusia itu tergantung pada aspek- aspek social budaya.
• Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran yang sedalam- dalamnya. Sebenarnya psikologi adalah salah satu bagian dari filsafat. Jadi psikologi dengan filsafat hubungannya sangat erat karena psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat.
4. Etnosentrisme dalam psikologi lintas budaya ?
Jawab:
Etnosentrime merupakan suatu sumber utama perbedaan budaya dalam bentuk sikap. Setiap individu atau kelompok individu cenderung memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan criteria kelompok sendiri, memandang kelompok sendiri sebagai pusat alam semesta yang mempengaruhi interaksi interkultural. Etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya. kesetiakawanan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai dengan prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa yang lain. Orang-orang yang berkepribadian etnosentris cenderung berasal dari kelompok masyarakat yang mempunyai banyak keterbatasan baik dalam pengetahuan, pengalaman, maupun komunikasi.
5. Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya melalui enkulturasi dan sosiologi ?
Jawab :
Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menysuaikan alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan yang lebih besar (masyarakat).
Di samping enkulturasi, terdapat sosialisasi. Sosisalisasi adalah proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota.
Di mana-mana, di berbagai kebudayaan, sosialisasi tampak berbeda-beda tetapi juga sama. Meskipun caranya berbeda, tujuannya sama, yaitu membentuk seorang manusia menjadi dewasa. Proses sosialisasi seorang inndividu berlangsung sejak kecil. Mula-mula mengenal dan menyesuaikan diri dengan individu-individulain dalam lingkungan terkecil (keluarga), kemudian dengan teman-teman sebaya atau sepermainan yang bertetangga dekat, dengan saudara sepupu, sekerabat, dan akhirnya dengan masyarakat luas.
6. Persamaan dan perbedaan antar budaya melalui perbedaan moral ?
Jawab :
Moral Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin yaitu mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangai yang dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai: 1. prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. 2. kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. 3. ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik. Moral ialah tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika. Moral terbagi menjadi dua yaitu: 1. Baik; segala tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai baik. 2. Buruk; tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai buruk. Perkembangan moral adalah perubahan penalaran, perasaan, dan perilaku tentang standar mengenai benar dan salah. Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal, yang mengatur aktifitas seseorang ketika dia terlibat dalam interaksi sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dan penyelesaian konflik. Pada usia Taman Kanak-kanak, anak telah memiliki pola moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan dengan moral position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang terhadap suatu nilai moral yang didasari oleh aspek motivasi kognitif dan aspek motivasi afektif. Menurut John Dewey tahapan perkembangan moral seseorang akan melewati 3 fase, yaitu premoral, conventional dan autonomous. Anak Taman Kanak-kanak secara teori berada pada fase pertama dan kedua. Oleh sebab itu, guru diharapkan memperhatikan kedua karakteristik tahapan perkembangan moral tersebut. Sedangkan menurut Piaget, seorang manusia dalam perkembangan moralnya melalui tahapan heteronomous dan autonomous. Seorang guru Taman Kanak-kanak harus memperhatikan tahapan hetero-nomous karena pada tahapan ini anak masih sangat labil, mudah terbawa arus, dan mudah terpengaruh. Mereka sangat membutuhkan bimbingan, proses latihan, serta pembiasaan yang terus-menerus. Moralitas anak Taman Kanak-kanak dan perkembangannya dalam tatanan kehidupan dunia mereka dapat dilihat dari sikap dan cara berhubungan dengan orang lain (sosialisasi), cara berpakaian dan berpenampilan, serta sikap dan kebiasaan makan. Demikian pula, sikap dan perilaku anak dapat memperlancar hubungannya dengan orang lain. Perkembangan moral dan etika pada diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkan dan menghargai perbedaan di lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya, serta mengembangkan keterampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk merespon orang lain dan pengalaman-pengalaman barunya, serta memunculkan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan teman disekitarnya. Ruang lingkup tahapan/pola perkembangan moral anak di antaranya adalah tahapan kejiwaan manusia dalam menginternalisasikan nilai moral kepada dirinya sendiri, mempersonalisasikan dan mengembangkannya dalam pembentukan pribadi yang mempunyai prinsip, serta dalam mematuhi, melaksanakan/menentukan pilihan, menyikapi/menilai, atau melakukan tindakan nilai moral.
7. Persamaan dan perbedaan antar budaya melalui perkembangan budaya ?
Jawab :
Di negara kita terlihat banyak sekali budaya luar yang masuk ke Negara kita,dan kebudayaan di Negara kita pun semakin berkembang dan banyak budaya baru di Negara kita sebagai percampuran dari budaya asli kita sendiri dengan budaya yang ada di luar Negara kita yang masuk dengan pesat lewat kemajuan teknologi,lewat pertukaran mahasiswa,dan banyaknya orang luar yang tinggal di Negara kita ataupun sebaliknya.
8. Persamaan dan perbedaan dalam hal konformitan,compliance,dan obedience ?
Jawab :
Conformity adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju. Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas.
Untuk membandingkan bagaimana conformity, compliance, dan obedience secara lintas budaya, maka telaah itu harus memusatkan perhatian pada nilai konformitas dan kepatuhan itu sebagai konstruk sosial yang berakar pada budaya. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang “baik” tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif.
9. Persamaan dan perbedaan dalam hal nilai-nilai ?
Jawab :
telaah lintas budaya mengenai nilai-nilai baik kemasyarakatan maupun perseorangan tergolong baru nilai merupakan gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok, yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan-pilihan yang ada.
Dalam Psikologi Lintas Budaya nilai dimasukkan sebagai salah satu aspek dari budaya atau masyarakat. Nilai muncul menjadi ciri khas yang cenderung menetap pada seseorang dan masyarakat dan karenanya penerimaan nilai berpengaruh pada sifat kerpibadian dan karakter budaya.
10. Persamaan dan perbedaan dalam hal perilaku gender ?
Jawab :
Gender merupakan kajian tentang tingkah laku dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Perbedaan pola sosialisasi ini juga berkaitan dengan beberapa faktor budaya dan faktor ekologi.
Gender merupakan hasil konstruksi yang berkembang selama masa anak-anak sebagaimana mereka disosialisasikan dalam lingkungan mereka. Adanya perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan karakteristik psikologis yang berbeda antara pria dan wanita. Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami budaya dan gender tidak statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu dinamis dan saling berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem itu sendiri. Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam kehidupan kita sendiri.Sebagai konsekuensinya, budaya yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu budaya mungkin mendukung kesamaan antara pria dan wanita, namun budaya lainnya tidak mendukung kesamaan tersebut. Dengan demikian budaya mendefinisikan atau memberikan batasan mengenai peran, kewajiban, dan tanggung jawab yang cocok bagi pria dan wanita.
11. Persamaan dan perbedaan dalam hal social bermasyarakat ?
Jawab :
Terdapat hubungan dan saling mempengaruhi antara individu, masyarakat dan kebudayaannya. Individu, masayarakat dan kebudayaannya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana Anda maklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat itu sendiri terbentuk dari individu-individu. Masyarakat dan kebudayaan mempengaruhi individu, sebaliknya masyarakat dan kebudayaan dipengaruhi pula oleh individu-individu yang membangunnya.
12. Persamaan dan perbedaan social kognitif ?
Jawab :
Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Dalam psikologi, kognitif adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari sebuah prilaku. Kognitif juga merupakan salah satu hal yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, rasa dan karsa) dalam rangka mempertahankan kelangsunganhidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitas (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya (biologis, sosiolois, psikologis) yang diseimbangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, hambatan (AGHT) dari lingkungan alam dan sosialnya.
13. Persamaan dan perbedan dalam hal individual dan klolektifitas ?
Jawab :
Individual adalah pola sosial yang berfokus pada nilai tertinggi pada kepentingan individu yang bersifat personal. Dan mereka didorong untuk membangun suatu konsep akan diri yang terpisah dari orang lain yang termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung mengarah pada tujuan diri individu. Kolektivitas adalah suatu pola sosial yang berfokus pada kepentingan kelompok yang menjadi suatu nilai tertinggi. Jadi individual dan kolektivitas memiliki tempat tertinggi dalam suatu budaya. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang bertentangan dengan masing-masing norma, individualis lebih bertentangan dengan norma kelompok sedangkan kolektivitas lebih cenderung sesuai dengan norma kelompok.
http://psikologi-online.com/etnosentrisme
http://id.wikipedia.org/wiki/psikologi_lintas_budaya
Kamis, 14 Juni 2012
Kesan saya melihat vidio vidio yang tadi ditampilkan saya merasa sangat tersentuh sekali,ternyata banyak sekali orang-orang diluar sana yang tidak seberuntung kita. Disini saya juga merasa sedikit malu karena dengan kehidupan saya yang seperti ini seharusnya saya selalu bersyukur.dengan melihat vidio vidio tadi saya jadi merasa termotivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan selalu menghargai setiap apa yang kita punya.
Vidio yang menceritakan tentang seorang “ayah”yang tidak bisa berbicara karena memiliki cacat dari kecil tapi sang ayah selalu ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya,disitu saya merasa sangat tersentuh. Sang ayah bekerja keras untuk anaknya,tetapi anaknya merasa malu karena ayahnya yang cacat seperti itu,saya benar benar besyukur karena saya memiliki keluarga yang lengkap dan tidak kekurangan apapun. Dan saya merasa sangat termotivasi untuk menjadi manusia yang sukses yang tidak boleh mengeluh walaupun kegagalan menghampiri saya karena saya yakin kemampuan dan kesungguhan yang saya miliki akan mengantarkan saya kegerbang kesuksesan..amin
Kamis, 26 April 2012
Behaviourisme
Aliran ini khususnya terdapat di Amerika Serikat. Aliran ini ditemukan oleh John B.Watson (1878-1958). Ia menentang pendapat yang umum berlaku di saat itu bahwa dalam eksperimen-eksperimen psikologi diperlukan intropeksi. Intropeksi yang mengamati perasaan sendiri digunakan dalam eksperimen – eksperimen di labolatarium wundt untuk mengetahui ada atau tidak adanya perasaan-perasaan apa yang dapat ditimnbulkannya dalam eksperimen-eksperimennya. Oleh karena itu psikologi Wundt dikenal juga dengan nama psikologi introspeksi. Pandangan ini dibawa dan dipopulerkan dari jerman ke Amerika oleh salah seorang murid Wundt yang bernama Edward B. Titchener (1867-1927).
Watson dilain pihak memperknalkan psikologi yang sama tidak mempergunakan introspeksi. Menurut dia psroses proses kesadaran tidak perlu diselidiki,karena yang lebih penting adalah proses adaptasi, gerakan otot-otot, dan aktivitas kelenjar kelenjar. Ia berharap dengan teorinya ini dapat dicapai objektivitas ilmiah yang lebih sempurna, karena dalam introspeksi pengaruh faktor-faktor subjektif dari orang yang diperiksa besar sekali.oleh karena itu,ia lebih mementingkan perilaku terbuka yang langsung dapat diamati dan diukur daripada laku tertutup yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung. Emosi gembira atau emosi sedih menurut kaum “behaviourist”adalah manifestasi dari adanya ketegangan (tarikan) otot-otot dan syaraf syaraf tertentu. Aliran ini disebut pula sebagai “S-R” (stimulus respons) karena menurut penganut-penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan (stimulus)dan diikut oleh reaksi (response) terhadap rangsangan itu.
Sebagaimana pavlov yang percaya bahwa perilaku,bahkan kebudayaan,hanyalah rangkaian refleks terkondisi saja,Watson pun yakin bahwa ia dapat melatih 10 anak untuk memiliki sifat yang berbeda-beda (penakut,pemberani,pemalu dsb) hanya dengan melatihnya melalui proses kondisioning. Salah satu penganut watson yang sangat besar masukannya untuk perkembangan Behaviorisme adalah B.F.Skinner. sebagian terbesar teori skiner adalah tingkah laku, belajar dan modifikasi tingkah laku.
Psikoanalisis
Psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund freud (1856-1939) pada 1909. Ia dikenal dengan teorinya mengenai alam ketidaksadaran. Teori ini merupakan penemuan baru saat itu karena selama itu para ahli hanya menyibukan diri dengan alam kesadaran sebagaimana yang nyata dalam teori-teori lain yang berlaku disaat itu sperti teori Asosiasi,teori intropeksi,behaviourisme,dan sebagainya. Ketidaksadaran menurut freud berisi dorongan-dorongan yang timbul pada masa kanak-kanak yang oleh satu dan lain hal (misalnya karena dilarang oleh norma masyarakat ) terpaksa ditekan sehingga tidak muncul dalam kesadaran. Dorongan-dorongan terlarang ini, menurut teori Freud yang klasik adalah naluri seksual atau disebut jug libido sexualis dan naluri agresif atau tanatos.
Dorongan-dorongan terlarang ini,meskipun ditekan tetap berpengaruh dan sering timbul dalam mimpi-mimpi,kesalahn bicara (slip of the tongue) atau bahkan dalam perbuatan-perbuatan biasa yang dapat diterima masyarakat seperti karya seni,karya sastra,ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Sebaliknya,kalau dorongan-dorongan ini sama sekali tidak dapat disalurkan,mka ia akan mengganggu kepribadian orang yang bersangkutan yang antara lain dapat berbentuk gangguan-gangguan kejiwaan yang disebut psikoneurosis.psikoanalisis sebagai tehnik penyembuhan penyakit-penyakit kejiwaan (psikoterapi) mempunyai metode untuk membokar gangguan –gangguan yang terdapat dalam ketidaksadaran ini, antara lain dengan metode analisis mimpi dan metode asosiasi bebas. Dalam perkembangan teori selanjutnya, Freud mengemukakan pula teori tentang id,ego,superego yang masing-masing berarti dorongan-dorongan naluri (id), aku (ego), dan hati nurani (suprego).
Id
Id merupakan sistem kepribadian yang asli,id merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Freud juga menyebut id “kenyataan psikis yang sebenarnya”karena id merepresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Prinsip reduksi tegangan yang merupakan ciri kerja id disebut prinsip kenikmatan (pleasure psrinciple).
Ego
Ego timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Orang yang lapar harus mencari,menemukan dan memakan makanan sampai tegangan karena rasa lapar dapat dihilangkan. Perbedaan pokok antara id dan ego adalah bahwa id hanya mengenal kenyataaan subjektif-jiwa,sedangkan ego membedakan antara hal-hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.ego dikatakan mengikuti prinsip kenyataan dan beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan prinsip kenyataan adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Proses sekunder adalah berpikir realisti. Dengan proses sekunder,ego menyusun rencana untuk memuaskan kebutuhan dan kemudian menguji rencana ini, biasanya melalui suatu tindakan untuk melihat apakah rencana itu berhasil atau tidak.
Superego
Superego adalah perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisioanal masyarakat sebagaimana diterangkan orangtua kepada anak dan dilaksanakan dengan cara memberinya hadiah atau hukuman. Superego adalah wewenang moral dari kepribadian ia mencerminkan yang ideal bukan real dan memperjuangkan kesempurnaan dan bukan kenikmatan. Fungsi-fungsi pokok superego adalah : 1. Merintangi impuls impuls id,terutama impuls impuls seksual dan agresif, 2. Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistis dengan tujuan-tujuan moralistis, 3. Mengajar kesempurnaan.
Langganan:
Komentar (Atom)